arrow_upward
settings_brightness

ReferensiKita - Rendang yang merupakan makanan terlezat di dunia, tidak hanya terkenal dengan rendang daging sapi yang begitu empuk saat dimakan dengan sepiring nasi putih hangat. Di rumah industri Redang Gadih yang ada di Kota Payakumbuh, Sumatera Barat, ternyata mampu melahirkan rendang dengan cita rasa yang beragam. Setidaknya ada 15 cita rasa rendang yang diproduksi oleh Rendang Gadih ini.

Beragamnya cita rasa rendang yang ada di Kota Payakumbuh ini, karena memang daerah ini disebut dengan sentral rendang di Sumatera Barat. Namun untuk rasa rendang yang ada di Rendang Gadih ini, jika diadu dengan rasa lidahnya orang Minang yang suka pedas, maka sajian rasa rendang yang ada di Rendang Gadih itu, tidak begitu terasa pedasnya. Hal ini dikarenakan produk Rendang Gadih dipasarkan ke skala nasional dan internasional.

Lalu, sebenarnya apa yang membuat Rendang Gadih begitu banyak diminati, dan banyak yang memesannya hingga keluar negeri. Owner Rendang Gadih Hj. Aswida menjelaskan Rendang Gadih merupakan sebuah usaha kuliner yang awalnya hanyalah untuk mengirimkan makanan untuk anaknya yang bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta. Berawal dari sana, teman sekantor dari anaknya menyukai masakan dari Aswida.

"Awalnya kita kirim beberapa bungkus saja, dan ternyata laku. Tapi ada permintaan teman sekantor anak saya itu, rasanya sambalnya itu jangan terlalu pedas. Nah saya mencoba mengubah itu, dan sampailah saat ini rasa rendang yang menurut saya, cocok untuk rasa nusantara," katanya, Kamis (04/07/2019).

Kini, berawal dari sebungkus demi sebungkus rendang yang dikirim melalui anaknya yang bekerja di Jakarta. Rendang yang diberi nama kemasan Rendang Gadih pun terus melakukan kreasi dari rasa-rasa rendangnya. Dari menggunakan bahan daging sapi, sekarang beberapa jenis rendang, seperti rendang ayam, jengkol, rendang paru sapi, tumbuk, suir jamur, nangka, singkong, suir sapi, paru sapi kering, pasta rendang, daun kelor, pakis, pare, daun belut, dan rendang iris.

I menjelaskan meskipun terdapat berbagai kreasi dari rendangnya, untuk bumbu yang digunakan masih sama dengan rendang daging. Hanya saja perbedaanya itu terletak pada waktu memasaknya, ada yang harus dimasak hingga kering, dan ada yang harus dimasakan tidak terlalu kering atau masih basah.

"Kenapa demikian, karena tidak semua rendang itu bisa tahan dengan waktu yang cukup lama. Seperti halnya rendang ayam, rendang ini tidk bisa tahan lama, dan disarankan makannya harus habis dalam sehari. Bisa sih mau dua hari, tapi harus dihangatkan kembali di dalam kuali. Kalua rendang daging, singkong, jengkol bisalah lebih lama," ujarnya.

Redang gadih yang memiliki 15 jenis rendang, kini telah dipasarkan ke berbagai media sosial dan di situs belanja online. Dengan adanya media promosi itu, Rendang Gadih telah memiliki pelanggaran ke berbagai daerah di Indonesia, dan juga ke berbagai negara Eropa dan Asia. Soal harganya, Rendang Gadih telah memiliki harga yang berbeda untuk masing-masing jenis rendangnya.

Seperti untuk rendang iris harga untuk satu kemasan itu Rp79.000, rendang daun belut Rp60.000, rendang pare Rp45.000, rendang pakis Rp45.000, rendang daun kelor Rp45.000, pasta rendang Rp40.000, rendang paru sapi kering Rp60.000, rendang siur sapi Rp50.000, rendang singkong Rp25.000, rendang nangka Rp25.000, rendang siur jamur Rp50.000, rendang tumbuk Rp84.000, rendang paru sapi Rp79.000, rendang jengkol Rp59.000, dan yang paling mahal itu ialah rendang ayam Rp120 ribu per porsi pemenasanannya.

Rendang Gadih ini mampu memproduksi randang hingga 50 kg per harinya. Bahkan, bisa membuatkan pesanan secara banyak. Seperti Rendang Gadih, punya khas tersendiri, gurih dan banyak pilihan. Randang yang dimasak di Komplek Taman Firdaus Payolansek, Kecamatan Payakumbuh Barat, Kota Payakumbuh.

Dalam mengembangkan usahanya, Rendang Gadih tergabung dalam Koperasi Randang Payo. Banyak juga anggotanya yang tergabung dalam koperasi ini. Khusus untuk Rendang Gadih, cukup sukses selama ini. Soal rasa dengan standar kualitas ditentukan langsung oleh Aswida, karena dalam memasak rendang ini, Rendang Gadih menggunakan bahan-bahan yang alami. Mulai dari rempah, kelapa dan daging sapi. Redang Gadih selalu menggunakan daging sapi terbaik, karena daging sangat menentukan kualitas randang. Begitu juga dengan kelapa, kelapa yang mereka gunakan hasil dari daerah sekitar. Karena memiliki kualitas yang lebih baik, tingkat minyak lebih banyak.

Selain itu menggunakan perangkat yang teknologi untuk pengolahan, tidak tradisional lagi. Untuk memastikan agar nama Rendang Gadih tidak disalahgunakan, Ia juga mendaftarkan hak kekayaan intelektualnya pada Kementrian Hukum dan HAM. Dengan itu, Rendang Gadih sudah menjadi merek dagang yang terdaftar. Aswida berharap usahanya tidak maju sendiri, dirinya Rendang Gadih diikuti UKM lainnya di Payakumbuh. Untuk itu, Rendang Gadih juga ikut membimbing sejumlah UKM Randang di Payakumbuh.

Dari adanya peran Rendang Gadih ini, berbagai usaha baru terus tumbuh. Pertumbuhan itu juga seiring dengan keinginan masyarakat untuk meningkatkan perekonomian mereka untuk merintis usaha. Pemerintah selaku fasilitator tetap melakukan pengawasan. (*)

15 Cita Rasa Rendang yang Ada di Kota Payakumbuh

Thursday, July 04, 2019 : 23:31

ReferensiKita - Rendang yang merupakan makanan terlezat di dunia, tidak hanya terkenal dengan rendang daging sapi yang begitu empuk saat dimakan dengan sepiring nasi putih hangat. Di rumah industri Redang Gadih yang ada di Kota Payakumbuh, Sumatera Barat, ternyata mampu melahirkan rendang dengan cita rasa yang beragam. Setidaknya ada 15 cita rasa rendang yang diproduksi oleh Rendang Gadih ini.

Beragamnya cita rasa rendang yang ada di Kota Payakumbuh ini, karena memang daerah ini disebut dengan sentral rendang di Sumatera Barat. Namun untuk rasa rendang yang ada di Rendang Gadih ini, jika diadu dengan rasa lidahnya orang Minang yang suka pedas, maka sajian rasa rendang yang ada di Rendang Gadih itu, tidak begitu terasa pedasnya. Hal ini dikarenakan produk Rendang Gadih dipasarkan ke skala nasional dan internasional.

Lalu, sebenarnya apa yang membuat Rendang Gadih begitu banyak diminati, dan banyak yang memesannya hingga keluar negeri. Owner Rendang Gadih Hj. Aswida menjelaskan Rendang Gadih merupakan sebuah usaha kuliner yang awalnya hanyalah untuk mengirimkan makanan untuk anaknya yang bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta. Berawal dari sana, teman sekantor dari anaknya menyukai masakan dari Aswida.

"Awalnya kita kirim beberapa bungkus saja, dan ternyata laku. Tapi ada permintaan teman sekantor anak saya itu, rasanya sambalnya itu jangan terlalu pedas. Nah saya mencoba mengubah itu, dan sampailah saat ini rasa rendang yang menurut saya, cocok untuk rasa nusantara," katanya, Kamis (04/07/2019).

Kini, berawal dari sebungkus demi sebungkus rendang yang dikirim melalui anaknya yang bekerja di Jakarta. Rendang yang diberi nama kemasan Rendang Gadih pun terus melakukan kreasi dari rasa-rasa rendangnya. Dari menggunakan bahan daging sapi, sekarang beberapa jenis rendang, seperti rendang ayam, jengkol, rendang paru sapi, tumbuk, suir jamur, nangka, singkong, suir sapi, paru sapi kering, pasta rendang, daun kelor, pakis, pare, daun belut, dan rendang iris.

I menjelaskan meskipun terdapat berbagai kreasi dari rendangnya, untuk bumbu yang digunakan masih sama dengan rendang daging. Hanya saja perbedaanya itu terletak pada waktu memasaknya, ada yang harus dimasak hingga kering, dan ada yang harus dimasakan tidak terlalu kering atau masih basah.

"Kenapa demikian, karena tidak semua rendang itu bisa tahan dengan waktu yang cukup lama. Seperti halnya rendang ayam, rendang ini tidk bisa tahan lama, dan disarankan makannya harus habis dalam sehari. Bisa sih mau dua hari, tapi harus dihangatkan kembali di dalam kuali. Kalua rendang daging, singkong, jengkol bisalah lebih lama," ujarnya.

Redang gadih yang memiliki 15 jenis rendang, kini telah dipasarkan ke berbagai media sosial dan di situs belanja online. Dengan adanya media promosi itu, Rendang Gadih telah memiliki pelanggaran ke berbagai daerah di Indonesia, dan juga ke berbagai negara Eropa dan Asia. Soal harganya, Rendang Gadih telah memiliki harga yang berbeda untuk masing-masing jenis rendangnya.

Seperti untuk rendang iris harga untuk satu kemasan itu Rp79.000, rendang daun belut Rp60.000, rendang pare Rp45.000, rendang pakis Rp45.000, rendang daun kelor Rp45.000, pasta rendang Rp40.000, rendang paru sapi kering Rp60.000, rendang siur sapi Rp50.000, rendang singkong Rp25.000, rendang nangka Rp25.000, rendang siur jamur Rp50.000, rendang tumbuk Rp84.000, rendang paru sapi Rp79.000, rendang jengkol Rp59.000, dan yang paling mahal itu ialah rendang ayam Rp120 ribu per porsi pemenasanannya.

Rendang Gadih ini mampu memproduksi randang hingga 50 kg per harinya. Bahkan, bisa membuatkan pesanan secara banyak. Seperti Rendang Gadih, punya khas tersendiri, gurih dan banyak pilihan. Randang yang dimasak di Komplek Taman Firdaus Payolansek, Kecamatan Payakumbuh Barat, Kota Payakumbuh.

Dalam mengembangkan usahanya, Rendang Gadih tergabung dalam Koperasi Randang Payo. Banyak juga anggotanya yang tergabung dalam koperasi ini. Khusus untuk Rendang Gadih, cukup sukses selama ini. Soal rasa dengan standar kualitas ditentukan langsung oleh Aswida, karena dalam memasak rendang ini, Rendang Gadih menggunakan bahan-bahan yang alami. Mulai dari rempah, kelapa dan daging sapi. Redang Gadih selalu menggunakan daging sapi terbaik, karena daging sangat menentukan kualitas randang. Begitu juga dengan kelapa, kelapa yang mereka gunakan hasil dari daerah sekitar. Karena memiliki kualitas yang lebih baik, tingkat minyak lebih banyak.

Selain itu menggunakan perangkat yang teknologi untuk pengolahan, tidak tradisional lagi. Untuk memastikan agar nama Rendang Gadih tidak disalahgunakan, Ia juga mendaftarkan hak kekayaan intelektualnya pada Kementrian Hukum dan HAM. Dengan itu, Rendang Gadih sudah menjadi merek dagang yang terdaftar. Aswida berharap usahanya tidak maju sendiri, dirinya Rendang Gadih diikuti UKM lainnya di Payakumbuh. Untuk itu, Rendang Gadih juga ikut membimbing sejumlah UKM Randang di Payakumbuh.

Dari adanya peran Rendang Gadih ini, berbagai usaha baru terus tumbuh. Pertumbuhan itu juga seiring dengan keinginan masyarakat untuk meningkatkan perekonomian mereka untuk merintis usaha. Pemerintah selaku fasilitator tetap melakukan pengawasan. (*)