arrow_upward
settings_brightness

ReferensiKita - Batik Tanah Liek Citra yang berada di Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya, Provinsin Sumatera Barat, cukup dikenal di tanah Minangkabau. Dengan memiliki motif batik yang khas, membuat diminati banyak orang. Tidak hanya dari Sumatera Barat saja, tetapi pemasarannya juga telah sampai ke Bandung, Kaimantan, dan bahkan ke Jepang.

Motif yang dilahirkan Batik Tanah Liek Citra ini terdiri dari motif karet, keluk paku, rangkiang, burung meraik, dan rumah gadang. Untuk membuat Batik Tanah Liek ini, ternyata memiliki rentetan sejarah yang cukup panjang, dan hingga kini telah memiliki 20 orang pekerja.

Pengusaha Batik Tanah Liek Citra Eni Mulyatni mengatakan Batik Tanah Liek yang ia kembangkan itu, suda ada sejak tahun 1997 lalu. Namun ketika itu, keterampilan membantik belum sebaik sekarang. Setelah menjalani pendidikan tenik membatik di Jojga dan Solo selama 6 bulan di tahun itu, perlahan-lahan hasil membatiknya Eni, menghasilkan karya yang bagus, dan memiliki nilai jual yang tinggi.

"Dulu itu Dharmasraya ini belum dimekarkan lagi, dan dari 20 orang pekerja itu disaring untuk bisa mengikuti pelatihan di Jogja dan Solo. Ketika itu, orang bisa diikutsertakan untuk dilatih, kepada anggota yang memiliki kemampuan yang bagus. Di antara itu, masuklah saya, dan selama di pelatihan dan kembali ke Dharmasraya, kita digaji oleh pemerintah, sebelum mandiri pada tahun 2000," katanya.

Memasuki tahun 2000 itu, dimana usaha membatiknya berjalan mandiri, karena setelah sekia bulan dibina, dan hingga akhirnya telah memiliki pangsa pasar yang menjanjikan. Harga batik mililki Eni ini beragam yang disesuaikan dengan kualitas kain yang digunakan. Seperti untuk kain biasa, harnya kain batiknya mulai dari Rp250 ribu per helai, sementara untuk jenis kain yang sutera harganya Rp1,5 juta per helain.

"Untuk kain jenis sutera memang tidak terlalu banyak kita produksi, dan diproduksi apabila ada pesananan saja. Hal ini dikarenakan tingginya harga yang dikhawatirkan akan sedikit pembeli," ujarnya.

Perpaduan warna batik yang digunakan oleh Batik Tanah Liek Citra ini beragam, mulai dari warna kunig coklat, merah, hita, hijau, dan banyak jenis warnanya yang  menggunakan bahan tanah liek. Namun untuk mendapatkan warna yang diinginkan, juga bisa dilakukan sesuai dengan orang yang hendak memesan batiknya.

Dengan mengerahkan 20 orang pekerja, untuk masing pekekrja itu memiliki tugas yang berbeda, mulai dari pekerja yang khusus membuat motif, mewarnai, meng-cutting, dan hingga mencucuinya. Aktifitas membatik ini tidaklah dilakukan disebuah tempat khsusu, tapi hanya memanfaatkan teras rumah, sehingga Batik Tanah Liek Citra ini masih bersifat home industri. Kegiatan membatik pun dilkaukan setiap harinya, dan apabila banyak pesanan, maka pekerja tak jarang harus lebur untuk menyelesaikan pesanan.

Usaha yang dijalani oleh Eni ternyata mampu meraup penghasilan yang menggiurkan, per bulannya laba bersih yang diperolehnya dari penjualan batik bisa mencapai Rp70 juta. Tingginya omset yang diperoleh, membuktikan bahwa Batik Tanah Liek Citra memiliki kualitas yang bagus.

Selain itu, pekerja yang membatik ini bukanlah merupakan penduduk asli di Dharmasraya, akan tetapi mereka telah lama menetap di Dharmasraya melalui program era kepresiden Soeharto yakni transmigrasi penduduk Jawa dan kini masyarakatnya banyak berkembang di Sumatera Barat, termasuk di Kabupaten Dharmasraya. (*)

Corak Batik Tanah Liek Sitiung Nan Inspiratif

Wednesday, July 31, 2019 : 17:00

ReferensiKita - Batik Tanah Liek Citra yang berada di Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya, Provinsin Sumatera Barat, cukup dikenal di tanah Minangkabau. Dengan memiliki motif batik yang khas, membuat diminati banyak orang. Tidak hanya dari Sumatera Barat saja, tetapi pemasarannya juga telah sampai ke Bandung, Kaimantan, dan bahkan ke Jepang.

Motif yang dilahirkan Batik Tanah Liek Citra ini terdiri dari motif karet, keluk paku, rangkiang, burung meraik, dan rumah gadang. Untuk membuat Batik Tanah Liek ini, ternyata memiliki rentetan sejarah yang cukup panjang, dan hingga kini telah memiliki 20 orang pekerja.

Pengusaha Batik Tanah Liek Citra Eni Mulyatni mengatakan Batik Tanah Liek yang ia kembangkan itu, suda ada sejak tahun 1997 lalu. Namun ketika itu, keterampilan membantik belum sebaik sekarang. Setelah menjalani pendidikan tenik membatik di Jojga dan Solo selama 6 bulan di tahun itu, perlahan-lahan hasil membatiknya Eni, menghasilkan karya yang bagus, dan memiliki nilai jual yang tinggi.

"Dulu itu Dharmasraya ini belum dimekarkan lagi, dan dari 20 orang pekerja itu disaring untuk bisa mengikuti pelatihan di Jogja dan Solo. Ketika itu, orang bisa diikutsertakan untuk dilatih, kepada anggota yang memiliki kemampuan yang bagus. Di antara itu, masuklah saya, dan selama di pelatihan dan kembali ke Dharmasraya, kita digaji oleh pemerintah, sebelum mandiri pada tahun 2000," katanya.

Memasuki tahun 2000 itu, dimana usaha membatiknya berjalan mandiri, karena setelah sekia bulan dibina, dan hingga akhirnya telah memiliki pangsa pasar yang menjanjikan. Harga batik mililki Eni ini beragam yang disesuaikan dengan kualitas kain yang digunakan. Seperti untuk kain biasa, harnya kain batiknya mulai dari Rp250 ribu per helai, sementara untuk jenis kain yang sutera harganya Rp1,5 juta per helain.

"Untuk kain jenis sutera memang tidak terlalu banyak kita produksi, dan diproduksi apabila ada pesananan saja. Hal ini dikarenakan tingginya harga yang dikhawatirkan akan sedikit pembeli," ujarnya.

Perpaduan warna batik yang digunakan oleh Batik Tanah Liek Citra ini beragam, mulai dari warna kunig coklat, merah, hita, hijau, dan banyak jenis warnanya yang  menggunakan bahan tanah liek. Namun untuk mendapatkan warna yang diinginkan, juga bisa dilakukan sesuai dengan orang yang hendak memesan batiknya.

Dengan mengerahkan 20 orang pekerja, untuk masing pekekrja itu memiliki tugas yang berbeda, mulai dari pekerja yang khusus membuat motif, mewarnai, meng-cutting, dan hingga mencucuinya. Aktifitas membatik ini tidaklah dilakukan disebuah tempat khsusu, tapi hanya memanfaatkan teras rumah, sehingga Batik Tanah Liek Citra ini masih bersifat home industri. Kegiatan membatik pun dilkaukan setiap harinya, dan apabila banyak pesanan, maka pekerja tak jarang harus lebur untuk menyelesaikan pesanan.

Usaha yang dijalani oleh Eni ternyata mampu meraup penghasilan yang menggiurkan, per bulannya laba bersih yang diperolehnya dari penjualan batik bisa mencapai Rp70 juta. Tingginya omset yang diperoleh, membuktikan bahwa Batik Tanah Liek Citra memiliki kualitas yang bagus.

Selain itu, pekerja yang membatik ini bukanlah merupakan penduduk asli di Dharmasraya, akan tetapi mereka telah lama menetap di Dharmasraya melalui program era kepresiden Soeharto yakni transmigrasi penduduk Jawa dan kini masyarakatnya banyak berkembang di Sumatera Barat, termasuk di Kabupaten Dharmasraya. (*)