arrow_upward
settings_brightness

ReferensiKita - Hal yang dilakukan oleh Pegiat Bank Sampah yakni Mina Dewi Sukmawati memang patut ditiru oleh banyak orang. Berawal dari kepeduliannya terhadap lingkungan, hingga kini ia memiliki usaha kerajinan yang dihasilkan dari sampah.

Beragam jenis sampah yang dikelola oleh Dewi, mulai dari botol minuman bekas, hingga kemasan sampah rumah tangga. Untuk mengumpulkan bahan yang bakal diolah itu, Dewi mengajak masyarakat untuk memiliki tabungan dari bank sampah. Artinya, sampah yang dibeli Dewi, bukanlah dalam bentuk uang tunai, melainkan masuk ke buku tabungan.

Nah, dari sini ada dua sisi yang diselamatkan Dewi, yakni lingkungan, ekonomi, dan memberikan masyarakat kesadaran akan pentingnya mengelola sampah. Dalam menjalankan perannya ini, Dewi bekerja sendiri, dari menampung sampah sampai mengelola jadi kerajinan.

Untuk kerajinan yang dihasilkan Dewi beragam, seperti tas, dompet, pot hiasan meja, hiasan rak tempat minum, bros jilbab, dan banyak jenis kerajinan yang dihasilkannya. Soal harga, meski terbuat dari barang bekas, nilainya cukup mencengangkan. Karena untuk satu jenis produk kerajinan itu dipatok dengan harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Melihat dari hal yang telah dilakukan oleh Dewi ini, sepertinya merupakan usaha rakyat yang patut direkomendasikan agar diikuti oleh ibu ibu atau bahkan para gadis milineal, untuk belajar membuat kerajinan dari sampah tersebut.

Dewi menceritakan  bank sampah yang dijalankannya itu, telah dimula sejak tahun 2011 lalu. Kini dengan terus dikembangkannya bank sampah, ada tiga titik bank sampah di Kota Padang, Sumatera Barat, yang tersebar di Kecamatan Kuranji. Keberadaan bank sampah ini pun direncanakan menambah titik bank sampah, supaya bisa lebih menjangkau lebih banyak masyarakat yang menjualkan sampah-sampah keringnya.


Menurutnya, sampah-sampah yang dibeli itu tidak seluruhnya bisa dikelola, untuk itu setiap sampah yang masuk, akan dipilah sesuai yang dibutuhkan.

"Sampah yang kita beli itu anorganik, yakni plastik pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan sebagainya. Untuk kertas, misalnya kertas surat kabar, dengan memiliki 5 hingga 7 orang ibu-ibu rumah tangga yang telah kita latih, bisa menghasil barang – barang yang bernilai. Khusus dari kertas surat kabar, kita sudah membuat tempat tisu, tempat air gelas, pot bunga, dan yang lainnya. Itu semua bukan disimpan, tapi juga telah banyak dijual,” jelasnya.

Dewi menyatakan hasil kreatifitas ibu-ibu rumah tangga itu, ikut membantu ekonomi kebutuhan sehari-hari, karena harga untuk tempat tisu yang terbuat dari kertas koran mampu terjual Rp50.00 hingga Rp150.000 per unitnya, tergantung besaran ukurannya.

Selain memanfaatkan kertas surat kabar, bank sampah tersebut juga mengolah barang bekas dari bahan plastik pembungkus makanan. Dewi menjelaskan, untuk dari plastik pembungkus makanan itu, ibu-ibu rumah tangga juga bisa menghasilkan kreasi barang lainnya, seperti tas dan dompet.

“Ide-ide memanfaatkan barang bekas itu merupakan inspirasi dari nenek saya, yang dulu memanfaatkan kulit jagung menjadi barang yang layak jual. Jadi, saya pun mencoba kepada barang bekas yang dipungut pemulung, menjadi barang yang berguna, hasilnya sempurna, saya pun bisa,” ujar Dewi.

Ia mengakui, meski telah membagi pengalamannya kebanyakan orang, ia menyebutkan sebagai ajang saling belajar, karena dari hasil kreasi ibu-ibu rumah tangga tersebut, juga banyak muncul dari ide-ide mereka sendiri.

Barang-barang karya pengrajin dari hasil Bank Sampah itu pun ternyata juga telah dipasarkan hingga ke Pulau Jawa, namun belum dalam jumlah yang banyak. Cerita Dewi, meski demikian, barang hasil olahan barang bekas itu cukup laris di kalangan penggiat Posdaya yang ada di Kota Padang. (*)

Dari Peduli Lingkungan Hingga Lahirkan Kerajinan Barang Bekas

Friday, July 26, 2019 : 21:36

ReferensiKita - Hal yang dilakukan oleh Pegiat Bank Sampah yakni Mina Dewi Sukmawati memang patut ditiru oleh banyak orang. Berawal dari kepeduliannya terhadap lingkungan, hingga kini ia memiliki usaha kerajinan yang dihasilkan dari sampah.

Beragam jenis sampah yang dikelola oleh Dewi, mulai dari botol minuman bekas, hingga kemasan sampah rumah tangga. Untuk mengumpulkan bahan yang bakal diolah itu, Dewi mengajak masyarakat untuk memiliki tabungan dari bank sampah. Artinya, sampah yang dibeli Dewi, bukanlah dalam bentuk uang tunai, melainkan masuk ke buku tabungan.

Nah, dari sini ada dua sisi yang diselamatkan Dewi, yakni lingkungan, ekonomi, dan memberikan masyarakat kesadaran akan pentingnya mengelola sampah. Dalam menjalankan perannya ini, Dewi bekerja sendiri, dari menampung sampah sampai mengelola jadi kerajinan.

Untuk kerajinan yang dihasilkan Dewi beragam, seperti tas, dompet, pot hiasan meja, hiasan rak tempat minum, bros jilbab, dan banyak jenis kerajinan yang dihasilkannya. Soal harga, meski terbuat dari barang bekas, nilainya cukup mencengangkan. Karena untuk satu jenis produk kerajinan itu dipatok dengan harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Melihat dari hal yang telah dilakukan oleh Dewi ini, sepertinya merupakan usaha rakyat yang patut direkomendasikan agar diikuti oleh ibu ibu atau bahkan para gadis milineal, untuk belajar membuat kerajinan dari sampah tersebut.

Dewi menceritakan  bank sampah yang dijalankannya itu, telah dimula sejak tahun 2011 lalu. Kini dengan terus dikembangkannya bank sampah, ada tiga titik bank sampah di Kota Padang, Sumatera Barat, yang tersebar di Kecamatan Kuranji. Keberadaan bank sampah ini pun direncanakan menambah titik bank sampah, supaya bisa lebih menjangkau lebih banyak masyarakat yang menjualkan sampah-sampah keringnya.


Menurutnya, sampah-sampah yang dibeli itu tidak seluruhnya bisa dikelola, untuk itu setiap sampah yang masuk, akan dipilah sesuai yang dibutuhkan.

"Sampah yang kita beli itu anorganik, yakni plastik pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan sebagainya. Untuk kertas, misalnya kertas surat kabar, dengan memiliki 5 hingga 7 orang ibu-ibu rumah tangga yang telah kita latih, bisa menghasil barang – barang yang bernilai. Khusus dari kertas surat kabar, kita sudah membuat tempat tisu, tempat air gelas, pot bunga, dan yang lainnya. Itu semua bukan disimpan, tapi juga telah banyak dijual,” jelasnya.

Dewi menyatakan hasil kreatifitas ibu-ibu rumah tangga itu, ikut membantu ekonomi kebutuhan sehari-hari, karena harga untuk tempat tisu yang terbuat dari kertas koran mampu terjual Rp50.00 hingga Rp150.000 per unitnya, tergantung besaran ukurannya.

Selain memanfaatkan kertas surat kabar, bank sampah tersebut juga mengolah barang bekas dari bahan plastik pembungkus makanan. Dewi menjelaskan, untuk dari plastik pembungkus makanan itu, ibu-ibu rumah tangga juga bisa menghasilkan kreasi barang lainnya, seperti tas dan dompet.

“Ide-ide memanfaatkan barang bekas itu merupakan inspirasi dari nenek saya, yang dulu memanfaatkan kulit jagung menjadi barang yang layak jual. Jadi, saya pun mencoba kepada barang bekas yang dipungut pemulung, menjadi barang yang berguna, hasilnya sempurna, saya pun bisa,” ujar Dewi.

Ia mengakui, meski telah membagi pengalamannya kebanyakan orang, ia menyebutkan sebagai ajang saling belajar, karena dari hasil kreasi ibu-ibu rumah tangga tersebut, juga banyak muncul dari ide-ide mereka sendiri.

Barang-barang karya pengrajin dari hasil Bank Sampah itu pun ternyata juga telah dipasarkan hingga ke Pulau Jawa, namun belum dalam jumlah yang banyak. Cerita Dewi, meski demikian, barang hasil olahan barang bekas itu cukup laris di kalangan penggiat Posdaya yang ada di Kota Padang. (*)