arrow_upward
settings_brightness


ReferensiKita - Kelompok Tenun Balai Panjang, yang berada di Kecamatan Payakumbuh Selatan, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat, merupakan sebuah sentral tenun yang ada di kota rendang tersebut. Kini, kelompok tenun itu, tengah membangun sebuah koperasi.

Pendiri Kelompok Tenun Balai Panjang, Effendi mengatakan saat ini di kelompok tenun itu terdapat 35 orang anggota pengrajin yang bersifat Industri Kecil Menengah (IKM). Namun yang berada di Sentral Tenun ada 15 orang pengrajin yang bekerja dengan sistem upah.

Ia menceritakan, dulu kala sebelum terbentuk Kelompok Tenun Balai Panjang, terhitung sejak 2005 telah menekuni usaha tenun dengan pangsa pasar di Kota Bukittinggi dan Padang Panjang. Melihat pangsa pasar yang bagus, Effendi berinisiatif mendirikan sebuah kelola tenun, dengan harapan dapat mensejahterakan pengrajin tenun lainnya.

"Waktu sebelum adanya kelompok tenun, hasil kerajinan itu hanya dapat dipasarkan bersifat lokal. Namun setelah terbentuk Kelompok Tenun Balai Panjang, melalui Sentral Tenun, pangsa pasar tenun khas Payakumbuh menyebar ke berbagai daerah di Indonesia," katanya kepada Referensi Kita

Untuk itu, dengan target agar bisa mensejahterakan pengrajin, Sentra Tenun Balai Panjang, tengah berupaya menaiki jenjang usaha ke arah yang lebih baik, yakni dengan cara membentuk sebuah koperasi. Kini, proses pembentukan koperasi telah sampai ke tahap sosialisasi kepada sejumlah anggota kelompok dan masyarakat, supaya keberadaan Koperasi Tenun Balai Panjang nantinya, mampu menampung hasil kerajinan tenun nya.

Effendi mengaku tujuan yang hendak dicapai membentuk setelah nantinya jadi koperasi, yaitu untuk meningkatan kesejahteraan pengrajin yang selama ini belum mendapatkan penghasilan yang layak, padahal tenun merupakan produk bernilai tinggi. Melalui adanya koperasi, tenun dari yang dikerjakan oleh para ibu-ibu rumah tangga, bisa ditampung oleh koperasi.

"Nama koperasi kita tinggal ubah dari Kelompok Tenun Balai Panjang menjadi Koperasi Balai Panjang. Artinya setelah nanti menjadi koperasi, di Sentral Tenun ini akan membuka diri, siapa pun masyarakat Payakumbuh boleh bergabung," ujarnya.

Kini di Sentral Tenun yang dikelola oleh Kelompok Tenun Balai Panjang, memiliki kurang lebih 15 alat tenun yang dibantu oleh Pemerintah Kota Payakumbuh. Untuk pekerja, merupakan masyarakat setempat yang telah dilatih jadi pengrajin tenun  dengan motif khas Payakumbuh.

"Motif tenun kita di sentral ini khas nya bisa dilihat seperti zikzag. Memang di berbagai daerah di Sumatera Barat banyak yang melakukan usaha tenun. Namun di Payakumbuh punya khas yang unik," jelasnya.

Ia menyebutkan dengan kini telah memiliki pengrajin yang mencapai 15 orang di Sentral Tenun Balai Panjang, setidaknya menghasilkan 40 sampai 50 potong tenunan dalam satu bulan. Harganya pun bervariasi tergantung kesulitan motif dan panjang tenun yang dihasilkan. Tapi yang paling harga tenun nya Rp800 ribu dengan panjang tenun mencapai 3 meter. Sementara yang harga termurah yakni Rp300.000 panjang tenun hanya 2,8 meter.

"Sebenarnya ntuk kualitas hasil tenun Balai Panjang tidak berbeda dengan hasil tenun yang ada di Sumatera Barat pada umumnya. Hanya saja, Balai Panjang lebih mengutamakan motif yang lahir di Payakumbuh, seperti motif saik galamai, itiak tabang dan bungo kumbuh," ungkapnya.

Selain telah memiliki pangsa pasar di Padang Panjang  Bukittinggi, kini hasil tenun pengrajin Balai Panjang sudah ada yang memesan langsung, dan itu datang dari daerah luar dari Sumatera Barat.

“Sekarang saja pemesanan dari instansi pemerintah di Payakumbuh agak kwalahan pengrajin kitanya. Belum lagi untuk pemesan luar dari Sumatera Barat. Kendati demikian, kita tidak menganggap hal ini kesulitan, tapi malah motivasi untuk lebih baik lagi dalam menghasilkan tenun yang terbaik," ujarnya.

"Dengan adanya pemesanan langsung itu, maka untuk sehelai tenun yang dihasilkan pengrajin menerima upah rata-rata per hari Rp100.000 - Rp300.000, tergantung kesulitan motif yang dihasilkannya. Padahal sebelum adanya kelompok ini, pengrajin hanya memperoleh upah Rp15.000 dan tertinggi Rp25.000 per hari. Nah kondisi yang begini, saya harapkan apabila kelompok yang sekarang jadi sebuah," sebutnya. (*) 

Kelompok Tenun Memberdayakan Pengrajin Ibu Rumah Tangga

Tuesday, July 30, 2019 : 07:45


ReferensiKita - Kelompok Tenun Balai Panjang, yang berada di Kecamatan Payakumbuh Selatan, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat, merupakan sebuah sentral tenun yang ada di kota rendang tersebut. Kini, kelompok tenun itu, tengah membangun sebuah koperasi.

Pendiri Kelompok Tenun Balai Panjang, Effendi mengatakan saat ini di kelompok tenun itu terdapat 35 orang anggota pengrajin yang bersifat Industri Kecil Menengah (IKM). Namun yang berada di Sentral Tenun ada 15 orang pengrajin yang bekerja dengan sistem upah.

Ia menceritakan, dulu kala sebelum terbentuk Kelompok Tenun Balai Panjang, terhitung sejak 2005 telah menekuni usaha tenun dengan pangsa pasar di Kota Bukittinggi dan Padang Panjang. Melihat pangsa pasar yang bagus, Effendi berinisiatif mendirikan sebuah kelola tenun, dengan harapan dapat mensejahterakan pengrajin tenun lainnya.

"Waktu sebelum adanya kelompok tenun, hasil kerajinan itu hanya dapat dipasarkan bersifat lokal. Namun setelah terbentuk Kelompok Tenun Balai Panjang, melalui Sentral Tenun, pangsa pasar tenun khas Payakumbuh menyebar ke berbagai daerah di Indonesia," katanya kepada Referensi Kita

Untuk itu, dengan target agar bisa mensejahterakan pengrajin, Sentra Tenun Balai Panjang, tengah berupaya menaiki jenjang usaha ke arah yang lebih baik, yakni dengan cara membentuk sebuah koperasi. Kini, proses pembentukan koperasi telah sampai ke tahap sosialisasi kepada sejumlah anggota kelompok dan masyarakat, supaya keberadaan Koperasi Tenun Balai Panjang nantinya, mampu menampung hasil kerajinan tenun nya.

Effendi mengaku tujuan yang hendak dicapai membentuk setelah nantinya jadi koperasi, yaitu untuk meningkatan kesejahteraan pengrajin yang selama ini belum mendapatkan penghasilan yang layak, padahal tenun merupakan produk bernilai tinggi. Melalui adanya koperasi, tenun dari yang dikerjakan oleh para ibu-ibu rumah tangga, bisa ditampung oleh koperasi.

"Nama koperasi kita tinggal ubah dari Kelompok Tenun Balai Panjang menjadi Koperasi Balai Panjang. Artinya setelah nanti menjadi koperasi, di Sentral Tenun ini akan membuka diri, siapa pun masyarakat Payakumbuh boleh bergabung," ujarnya.

Kini di Sentral Tenun yang dikelola oleh Kelompok Tenun Balai Panjang, memiliki kurang lebih 15 alat tenun yang dibantu oleh Pemerintah Kota Payakumbuh. Untuk pekerja, merupakan masyarakat setempat yang telah dilatih jadi pengrajin tenun  dengan motif khas Payakumbuh.

"Motif tenun kita di sentral ini khas nya bisa dilihat seperti zikzag. Memang di berbagai daerah di Sumatera Barat banyak yang melakukan usaha tenun. Namun di Payakumbuh punya khas yang unik," jelasnya.

Ia menyebutkan dengan kini telah memiliki pengrajin yang mencapai 15 orang di Sentral Tenun Balai Panjang, setidaknya menghasilkan 40 sampai 50 potong tenunan dalam satu bulan. Harganya pun bervariasi tergantung kesulitan motif dan panjang tenun yang dihasilkan. Tapi yang paling harga tenun nya Rp800 ribu dengan panjang tenun mencapai 3 meter. Sementara yang harga termurah yakni Rp300.000 panjang tenun hanya 2,8 meter.

"Sebenarnya ntuk kualitas hasil tenun Balai Panjang tidak berbeda dengan hasil tenun yang ada di Sumatera Barat pada umumnya. Hanya saja, Balai Panjang lebih mengutamakan motif yang lahir di Payakumbuh, seperti motif saik galamai, itiak tabang dan bungo kumbuh," ungkapnya.

Selain telah memiliki pangsa pasar di Padang Panjang  Bukittinggi, kini hasil tenun pengrajin Balai Panjang sudah ada yang memesan langsung, dan itu datang dari daerah luar dari Sumatera Barat.

“Sekarang saja pemesanan dari instansi pemerintah di Payakumbuh agak kwalahan pengrajin kitanya. Belum lagi untuk pemesan luar dari Sumatera Barat. Kendati demikian, kita tidak menganggap hal ini kesulitan, tapi malah motivasi untuk lebih baik lagi dalam menghasilkan tenun yang terbaik," ujarnya.

"Dengan adanya pemesanan langsung itu, maka untuk sehelai tenun yang dihasilkan pengrajin menerima upah rata-rata per hari Rp100.000 - Rp300.000, tergantung kesulitan motif yang dihasilkannya. Padahal sebelum adanya kelompok ini, pengrajin hanya memperoleh upah Rp15.000 dan tertinggi Rp25.000 per hari. Nah kondisi yang begini, saya harapkan apabila kelompok yang sekarang jadi sebuah," sebutnya. (*)