arrow_upward
settings_brightness

ReferensiKita - Tidak ada yang tidak mungkin dalam menjalankan sebuah usaha. Apakah itu berada di tempat yang ramai, atau malah berada di tempat yang sepi. Tidak terlalu dihiraukan, asalkan optimis, maka anggapan sulit itu bisa terpecahkan.

Seperti yang dilakukan oleh Mak Ros warga Malalak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat ini, setiap harinya ia membawa ikan nila dan rinuak segar ke salah satu masjid yang ada di Malalak. Ikan-ikan itu dijual dengan harga Rp20 ribu per kilogramnya untuk ikan nila, dan satu kantong plastik ribuak dijual seharga Rp20 ribu juga.

Ternyata, meski hanya duduk standby di kawasan masjid itu, usaha jualan ikan yang dijual itu cukup laris. Usia Mak Ros memang sudah tidak muda lagi, namun banyak hal yang bisa dipelajari dari optimis beliau tersebut.

Untuk sampai ke masjid di Malalak itu, Mak Ros dihantarkan oleh keluarganya, dengan tiga kantong ikan nila segar, satu timbangan kecil, dan sejumlah kantong kresek. Setiap masyarakat yang datang ke masjid untuk shalat, Mak Ros dengan suara lembutnya menyorakan jualan ikannya.

Ia mengaku, meski meletakan barang dagangannya tidak di tempat pasar ikan, namun dengan duduk di kawasan masjid, diniai merupakan tempat yang ramai didatangi masyarakat. Setidaknya ada sedikit harapan, masyarakat yang datang ke masjid, bisa berbelanja ikan.

Usaha berjualan ikan yang dilakukan oleh Mak Ros ini dikatakannya telah dilakukna cukup lama. Bahkan ikan-ikan yang dibawanya itu habis per harinya, terhitung sejak pagi hingga sore harinya. Ikan-ikan pun dijamin selalu segar, kerena suhu udara di daerah itu cukup dinggi.

Hal yang dilakukan oleh Mak Ros ini, dapat menginspirasi banyak orang. Intinya tempat berjualan tidaklah harus ada di pasar, tapi bisa dilakukan di tempat-tempat yang ramai aktifitas masyarakat, salah satunya di kawasan masjid. (*)

Kesuksesan Pedagang Ikan di Sudut Masjid di Malalak

Wednesday, July 31, 2019 : 15:13

ReferensiKita - Tidak ada yang tidak mungkin dalam menjalankan sebuah usaha. Apakah itu berada di tempat yang ramai, atau malah berada di tempat yang sepi. Tidak terlalu dihiraukan, asalkan optimis, maka anggapan sulit itu bisa terpecahkan.

Seperti yang dilakukan oleh Mak Ros warga Malalak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat ini, setiap harinya ia membawa ikan nila dan rinuak segar ke salah satu masjid yang ada di Malalak. Ikan-ikan itu dijual dengan harga Rp20 ribu per kilogramnya untuk ikan nila, dan satu kantong plastik ribuak dijual seharga Rp20 ribu juga.

Ternyata, meski hanya duduk standby di kawasan masjid itu, usaha jualan ikan yang dijual itu cukup laris. Usia Mak Ros memang sudah tidak muda lagi, namun banyak hal yang bisa dipelajari dari optimis beliau tersebut.

Untuk sampai ke masjid di Malalak itu, Mak Ros dihantarkan oleh keluarganya, dengan tiga kantong ikan nila segar, satu timbangan kecil, dan sejumlah kantong kresek. Setiap masyarakat yang datang ke masjid untuk shalat, Mak Ros dengan suara lembutnya menyorakan jualan ikannya.

Ia mengaku, meski meletakan barang dagangannya tidak di tempat pasar ikan, namun dengan duduk di kawasan masjid, diniai merupakan tempat yang ramai didatangi masyarakat. Setidaknya ada sedikit harapan, masyarakat yang datang ke masjid, bisa berbelanja ikan.

Usaha berjualan ikan yang dilakukan oleh Mak Ros ini dikatakannya telah dilakukna cukup lama. Bahkan ikan-ikan yang dibawanya itu habis per harinya, terhitung sejak pagi hingga sore harinya. Ikan-ikan pun dijamin selalu segar, kerena suhu udara di daerah itu cukup dinggi.

Hal yang dilakukan oleh Mak Ros ini, dapat menginspirasi banyak orang. Intinya tempat berjualan tidaklah harus ada di pasar, tapi bisa dilakukan di tempat-tempat yang ramai aktifitas masyarakat, salah satunya di kawasan masjid. (*)