arrow_upward
settings_brightness
Seorang masyarakat hendak menuju ke Toserba Koperasi Pegawai Negeri (KPN) Syariah Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. (Foto: ReferensiKita.id) 


ReferensiKita.id - Revolusi digital tanpa terasa telah menjadi suatu kebutuhan hidup. Hampir semua hal yang ingin dikerjakan, bisa dilakukan secara otomatis. Caranya, cukup dengan memiliki ponsel pintar yang memiliki akses internet, maka banyak orang yang bisa melakukan berbagai hal, yang jauh bisa terasa dekat, dan hingga bisa mengenal dunia, cukup dengan sebuah ponsel pintar melalui berbagai aplikasi.

Kemudahan yang dirasakan dengan adanya industri digitalisasi, bisa dilihat dari hal kecil, seperti hadirnya aplikasi yang berfungsi memesan kendaraan angkutan ojek. Hanya melalui sebuah aplikasi yang terinstal di ponsel pintar, sudah bisa menghubungi angkutan ojek, tanpa harus berjalan kaki menuju pangkalan ojek, yang mungkin jauh dari tempa tinggal. Nah, di era Industri 4.0 ini, semua hal yang dilakukan selama ini secara manual, kini bisa dilakukan secara otomatis dengan waktu yang lebih efesien.

Kehadiran Industri 4.0 ini, ternyata dilirik oleh sebuah koperasi melalui sebuah unit usaha, yang dapat memanjakan anggota maupun masyarakat untuk bisa menikmati layanan digitalisasi. Koperasi dimaksud ialah Koperasi Pegawai Negeri (KPN) Syariah Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Melalui unit usahanya toko serba ada (Toserba), KPN Syariah Disdik Bukittinggi, memiliki misi menjadi pusat perbelanjaan anggotanya maupun masyarakat umum lainnya. 

Untuk mencapai semua itu, pengurus koperasi pun menghadirkan sebuah website (kpndikbud) yang dapat diakses untuk memesan sejumlah keperluan yang dijual di Toserba. Setidaknya melalui website itu, ada ratusan jenis barang yang dijual untuk berbagai kebutuhan, seperti makanan ringan kemasan, parfum, sabun mandi dan deterjen, minuman sachet, produk UMKM Bukittinggi, dan banyak jenis barang lainnya yang ada di Toserba tersebut.

Menurut Sekretaris KPN Syariah Disdik Kota Bukittinggi, Kafrawi, tujuan dihadirkannya website untuk berbelanja online itu, intinya memasarkan barang yang dijual secara meluas. Hal ini mengingat, dengan adanya website, banyak orang bisa mengakses dan mengetahui KPN Syariah Dikbud. Apalagi sekarang adalah eranya kemajuan teknologi, adanya website itu merupakan upaya koperasi menyesuaikan perkembangan zaman.

"Di website itu halaman pertama ada berita seputar kegiatan di KPN Syariah Disdik, untuk melihat barang-barang yang dijual di Toserba, ada dibagian bawahnya. Caranya tinggal klik jenis barang yang hendak dibeli, nantinya akan tertera harga dan foto barangnya. Intinya cara transksinya itu, hampir sama dengan situs belanja online lainnya," katanya.

Berapa jumlah transaksi yang telah dihasilkan hadirnya website itu, Kafrawi mengaku tidaklah terlalu besar. Hal ini dikarenakan, hampir sebagian besar anggota koperasi sudah berusia di atas 50 tahun, dan di usia itu tergolong orang yang tidak terlalu melek ke informasi teknologi (IT). Sementara untuk anggota yang tergolong para guru-guru muda, sebagian besarnya memanfaatkan website tersebut. Sedangkan untuk masyarakat umum, bisa dikatakan belum tersebar luas keberadaan website kpndikbud, karena sampai saat ini proses tahap penyelesaian atau penyempurnaan web masih terus dikerjakan.

KPN Disdik Bukittinggi merupakan salah satu yang terbaik dengan jumlah anggota 871 orang dan aset mencapai Rp51,1 miliar. Anggotanya terdiri dari guru Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sementara guru Sekolah Menengah Atas (SMA) tidak termasuk ke anggota koperasi, karena kewenangan guru SMA berada ditingkat Provinsi Sumatera Barat, dan bukan di Pemerintah Kota Bukittinggi.

Menapaki sebuah jalan yang membimbing KPN Syariah Disdik ke kondisi era perkembangan teknologi, merupakan upaya untuk menjadi sebuah koperasi yang harus hidup di era Industri 4.0. Hal ini juga bentuk berbenah dari koperasi yang selama ini menerapkan sistem manual, dan kini tengah beralih ke sistem otomatis, demi menjalankan unit usaha Toserba.

Namun demikian, selain membawa harapan, perkembangan industri 4.0 juga membawa tantangan. Implementasi industri 4.0 dikhawatirkan hanya akan menjangkau perusahaan besar tanpa bisa menyentuh usaha kecil menengah (UKM) maupun koperasi. Sebagian besar UKM dan Koperasi juga jarang mendapatkan program pendidikan, pelatihan ataupun penyuluhan untuk meningkatkan kapasitasnya guna menghadapi tantangan digitalisasi ekonomi.

Semangat koperasi di Kota Bukittinggi ini, juga didasari atas nama bapak koperasi yakni Bungg Hatta. Mantan Wakil Presiden RI pertama ini, juga dilahir di Kota Bukittinggi, sehingga tidak asing lagi, jika perkembangan koperasi di Kota Bukittinggi ini terbilang menggairahkan.

Akan tetapi ada persoalan yang perlu disiapkan betul dalam menapaki Industri 4.0 di Indonesia ini, seperti halnya sumber daya manusia (SDM). Karena diperkirakan dengan masuknya industri ini akan memangkas tenaga manusia. Bagi SDM yang masih tergolong rendah, maka akan memungkinkan terjadi pengangguran.

Koperasi, memang terbilang berpeluang dalam hal menapaki Industri 4.0, tapi koperasi perlu menyaipkan SDM yang handal. Dan bagi koperasi yang enggan menapaki Industri 4.0, bisa diperkirakan koperasi terkait bakal sulit hidup, serta bisa terkubur dalam perjalanan zaman. (*)

Koperasi di Kampung Bung Hatta Menapaki Era Industri 4.0

Tuesday, July 23, 2019 : 15:50
Seorang masyarakat hendak menuju ke Toserba Koperasi Pegawai Negeri (KPN) Syariah Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. (Foto: ReferensiKita.id) 


ReferensiKita.id - Revolusi digital tanpa terasa telah menjadi suatu kebutuhan hidup. Hampir semua hal yang ingin dikerjakan, bisa dilakukan secara otomatis. Caranya, cukup dengan memiliki ponsel pintar yang memiliki akses internet, maka banyak orang yang bisa melakukan berbagai hal, yang jauh bisa terasa dekat, dan hingga bisa mengenal dunia, cukup dengan sebuah ponsel pintar melalui berbagai aplikasi.

Kemudahan yang dirasakan dengan adanya industri digitalisasi, bisa dilihat dari hal kecil, seperti hadirnya aplikasi yang berfungsi memesan kendaraan angkutan ojek. Hanya melalui sebuah aplikasi yang terinstal di ponsel pintar, sudah bisa menghubungi angkutan ojek, tanpa harus berjalan kaki menuju pangkalan ojek, yang mungkin jauh dari tempa tinggal. Nah, di era Industri 4.0 ini, semua hal yang dilakukan selama ini secara manual, kini bisa dilakukan secara otomatis dengan waktu yang lebih efesien.

Kehadiran Industri 4.0 ini, ternyata dilirik oleh sebuah koperasi melalui sebuah unit usaha, yang dapat memanjakan anggota maupun masyarakat untuk bisa menikmati layanan digitalisasi. Koperasi dimaksud ialah Koperasi Pegawai Negeri (KPN) Syariah Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Melalui unit usahanya toko serba ada (Toserba), KPN Syariah Disdik Bukittinggi, memiliki misi menjadi pusat perbelanjaan anggotanya maupun masyarakat umum lainnya. 

Untuk mencapai semua itu, pengurus koperasi pun menghadirkan sebuah website (kpndikbud) yang dapat diakses untuk memesan sejumlah keperluan yang dijual di Toserba. Setidaknya melalui website itu, ada ratusan jenis barang yang dijual untuk berbagai kebutuhan, seperti makanan ringan kemasan, parfum, sabun mandi dan deterjen, minuman sachet, produk UMKM Bukittinggi, dan banyak jenis barang lainnya yang ada di Toserba tersebut.

Menurut Sekretaris KPN Syariah Disdik Kota Bukittinggi, Kafrawi, tujuan dihadirkannya website untuk berbelanja online itu, intinya memasarkan barang yang dijual secara meluas. Hal ini mengingat, dengan adanya website, banyak orang bisa mengakses dan mengetahui KPN Syariah Dikbud. Apalagi sekarang adalah eranya kemajuan teknologi, adanya website itu merupakan upaya koperasi menyesuaikan perkembangan zaman.

"Di website itu halaman pertama ada berita seputar kegiatan di KPN Syariah Disdik, untuk melihat barang-barang yang dijual di Toserba, ada dibagian bawahnya. Caranya tinggal klik jenis barang yang hendak dibeli, nantinya akan tertera harga dan foto barangnya. Intinya cara transksinya itu, hampir sama dengan situs belanja online lainnya," katanya.

Berapa jumlah transaksi yang telah dihasilkan hadirnya website itu, Kafrawi mengaku tidaklah terlalu besar. Hal ini dikarenakan, hampir sebagian besar anggota koperasi sudah berusia di atas 50 tahun, dan di usia itu tergolong orang yang tidak terlalu melek ke informasi teknologi (IT). Sementara untuk anggota yang tergolong para guru-guru muda, sebagian besarnya memanfaatkan website tersebut. Sedangkan untuk masyarakat umum, bisa dikatakan belum tersebar luas keberadaan website kpndikbud, karena sampai saat ini proses tahap penyelesaian atau penyempurnaan web masih terus dikerjakan.

KPN Disdik Bukittinggi merupakan salah satu yang terbaik dengan jumlah anggota 871 orang dan aset mencapai Rp51,1 miliar. Anggotanya terdiri dari guru Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sementara guru Sekolah Menengah Atas (SMA) tidak termasuk ke anggota koperasi, karena kewenangan guru SMA berada ditingkat Provinsi Sumatera Barat, dan bukan di Pemerintah Kota Bukittinggi.

Menapaki sebuah jalan yang membimbing KPN Syariah Disdik ke kondisi era perkembangan teknologi, merupakan upaya untuk menjadi sebuah koperasi yang harus hidup di era Industri 4.0. Hal ini juga bentuk berbenah dari koperasi yang selama ini menerapkan sistem manual, dan kini tengah beralih ke sistem otomatis, demi menjalankan unit usaha Toserba.

Namun demikian, selain membawa harapan, perkembangan industri 4.0 juga membawa tantangan. Implementasi industri 4.0 dikhawatirkan hanya akan menjangkau perusahaan besar tanpa bisa menyentuh usaha kecil menengah (UKM) maupun koperasi. Sebagian besar UKM dan Koperasi juga jarang mendapatkan program pendidikan, pelatihan ataupun penyuluhan untuk meningkatkan kapasitasnya guna menghadapi tantangan digitalisasi ekonomi.

Semangat koperasi di Kota Bukittinggi ini, juga didasari atas nama bapak koperasi yakni Bungg Hatta. Mantan Wakil Presiden RI pertama ini, juga dilahir di Kota Bukittinggi, sehingga tidak asing lagi, jika perkembangan koperasi di Kota Bukittinggi ini terbilang menggairahkan.

Akan tetapi ada persoalan yang perlu disiapkan betul dalam menapaki Industri 4.0 di Indonesia ini, seperti halnya sumber daya manusia (SDM). Karena diperkirakan dengan masuknya industri ini akan memangkas tenaga manusia. Bagi SDM yang masih tergolong rendah, maka akan memungkinkan terjadi pengangguran.

Koperasi, memang terbilang berpeluang dalam hal menapaki Industri 4.0, tapi koperasi perlu menyaipkan SDM yang handal. Dan bagi koperasi yang enggan menapaki Industri 4.0, bisa diperkirakan koperasi terkait bakal sulit hidup, serta bisa terkubur dalam perjalanan zaman. (*)