arrow_upward
settings_brightness

ReferensiKita - Apabila hendak melakukan kunjungan ke Jam Gadang, Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat, cobalah untuk singgah sejenak di tepian telaga tepatnya di Jalan Raya Padang Bukittinggi km 10, Kenagarian Koto Baru, Kecamatan Sepuluh Koto, Kabupaten Tanah Datar. Di sana terdapat yang menjual makanan tradisional khas Minangkabau, yaitu bika panggang.

Setidaknya di sepanjang telaga Koto Baru ini, terdapat beberapa lapak dagangan yang menjual kue bika. Mengingat makanan ini makanan tradisional, maka tempat menjual bika pun terlihat cukup sederhana. Tapi jangan salah, kue bika yang dijual di sana, masih sangat hangat, karena dimasak langsung di tungku api.

Soal rasa tidak diragukan lagi, kue bika ini benar-benar dimasak secara tradisional dengan bahan kue yang tidak terlalu rumit. Salah seorang penjual Datuak Panjang, mengatakan bahan utama kue bika ini ialah tepung beras, lalu dicampur air, parutan kelapa secukupnya, gula pasir secukupnya dan ragi kue. Setelah dicampur, baru lah dipanggang di dalam belanga tanah liat, dan cetakannya itu menggunakan daun kayu jati.

"Cara memanggangnya itu, belanga diletakan di atas api dengan menggunakan bahan bakar kayu khusus. Dalam proses pembakaran ini, aroma kelezatan kue bika yang tengah di bakar menyebar. Jadi tak jarang, saat dibakar itu banyak pembeli yang menunggu, tidak sabar untuk mencicipi kue bika saya ini," katanya.

Untuk harganya itu hanya Rp2.000 satu kue bikanya dengan ukuran seluas telapak tangan. Sebenarnya yang membuat kue bika disukai banyak orang, bukanlah harganya yang murah, tapi yang benar-benar membuat kue bika disukai itu, rasanya yang lembut dan lezat.

Kue bika yang merupakan makanan cemilan ini makin mantap apabila ditemani segelas kopi hangat. Apalagi di daerah Koto Baru ini, memiliki suhu udara yang sejuk, sehingga makanan dengan sajian hangat sangat cocok saat berada di daerah jalan lintas Sumatera ini.


Menurut Datuak Panjang, selama 6 tahun ia berdagang kue bika, hampir dikatakan tidak pernah libur membuka kedai kue bikanya. Karena setiap hari itu banyak pembeli yang datang. Seperti terhitung sejak pagi hingga malam harinya, ada sekitar ratusan kue bika yang ludes terjual.

"Untuk membeli kue bika ini harap sabar menunggu juga, karena kue akan dipanggang sesuai pesanan. Artinya, kue bika dijual dimasak atau dipanggang dulu, bukan telah terletak dan tinggal dijual. Kenapa demikian, karena kue bika paling enak di makan saat kue masih panas," sebutnya.

Datuak Panjang melihat kue bika merupakan salah satu makanan khas Minangkabau yang saat ini masih memiliki penikmat yang banyak. Tidak hanya di kalangan masyarakat lokal, tapi wisatawan yang datang ke Sumatera Barat, yang melintas di daerah Koto Baru ini, juga banyak yang suka dengan kue bika.

Keberadaan kue bika sepertinya masih eksis di era zaman yang kini hadir berbagai cita rasa makanan, baik itu makanan hasil kreasi maupun makanan modern. Hal ini dikarenakan, banyak anggapan banyak orang bahwa makanan tradisional lebih sehat ketimbang makanan yang berwarna warni.

Salah seorang pembeli kue bika di telaga Koto Baru, Ance mengatakan, kue bika benar-benar lezat, lembut di lidah, dan parutan kelapa yang halus, serta rasa manis yang membuat tidak puas jika hanya mencicipi satu kue saja.

"Saya cukup sering membeli kue bika ini bersama keluarga. Saya lebih sering makan di kedainya ketimbang bungkus dan di rumah, karena kue bika paling lezat dimakan diwaktu masih panas. Harganya murah, lezat, dan tidak pakai pengawet, jadi cocok untuk makan bersama keluarga," jelasnya.

Ance menyebutkan kue bika akan paling enak, apabila di hidangkan juga segelas kopi hangat. Hal ini dikarenakan, daerah yang memiliki suhu udara yang dingin, menikmati sajian panas akan semakin mantap.

"Kalau makan bika nya jangan khawatir bakal bayar mahal. Segelas kopi hanya Rp5.000 dan bika hanya Rp2.000 untuk satu bika. Nah dengan harga demikian, jangan khawatir untuk menikmati bika ditemani segelas kopi hitam. Karena rasa adalah hal terpenting untuk dinikmati, dan bika lah makan yang mampu memenuhi kebutuhan itu," tegasnya.

Di Sumatera Barat, kue bika ini tidak hanya ada di Koto Baru Kabupaten Tanah Datar, tapi disepanjang jalan Kayutanam Kabupaten Padang Pariaman, juga banyak menjual kue bika, dengan berbagai rasa, seperti rasa gula merah. Cara membanggakan pun berbeda, ada yang menggunakan bara dari sebut kelapa dan dari kayu bakar. (*)

Kue Bika Koto Baru Makanan Tradisional Tak Hilang Ditelan Zaman

Saturday, July 27, 2019 : 00:47

ReferensiKita - Apabila hendak melakukan kunjungan ke Jam Gadang, Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat, cobalah untuk singgah sejenak di tepian telaga tepatnya di Jalan Raya Padang Bukittinggi km 10, Kenagarian Koto Baru, Kecamatan Sepuluh Koto, Kabupaten Tanah Datar. Di sana terdapat yang menjual makanan tradisional khas Minangkabau, yaitu bika panggang.

Setidaknya di sepanjang telaga Koto Baru ini, terdapat beberapa lapak dagangan yang menjual kue bika. Mengingat makanan ini makanan tradisional, maka tempat menjual bika pun terlihat cukup sederhana. Tapi jangan salah, kue bika yang dijual di sana, masih sangat hangat, karena dimasak langsung di tungku api.

Soal rasa tidak diragukan lagi, kue bika ini benar-benar dimasak secara tradisional dengan bahan kue yang tidak terlalu rumit. Salah seorang penjual Datuak Panjang, mengatakan bahan utama kue bika ini ialah tepung beras, lalu dicampur air, parutan kelapa secukupnya, gula pasir secukupnya dan ragi kue. Setelah dicampur, baru lah dipanggang di dalam belanga tanah liat, dan cetakannya itu menggunakan daun kayu jati.

"Cara memanggangnya itu, belanga diletakan di atas api dengan menggunakan bahan bakar kayu khusus. Dalam proses pembakaran ini, aroma kelezatan kue bika yang tengah di bakar menyebar. Jadi tak jarang, saat dibakar itu banyak pembeli yang menunggu, tidak sabar untuk mencicipi kue bika saya ini," katanya.

Untuk harganya itu hanya Rp2.000 satu kue bikanya dengan ukuran seluas telapak tangan. Sebenarnya yang membuat kue bika disukai banyak orang, bukanlah harganya yang murah, tapi yang benar-benar membuat kue bika disukai itu, rasanya yang lembut dan lezat.

Kue bika yang merupakan makanan cemilan ini makin mantap apabila ditemani segelas kopi hangat. Apalagi di daerah Koto Baru ini, memiliki suhu udara yang sejuk, sehingga makanan dengan sajian hangat sangat cocok saat berada di daerah jalan lintas Sumatera ini.


Menurut Datuak Panjang, selama 6 tahun ia berdagang kue bika, hampir dikatakan tidak pernah libur membuka kedai kue bikanya. Karena setiap hari itu banyak pembeli yang datang. Seperti terhitung sejak pagi hingga malam harinya, ada sekitar ratusan kue bika yang ludes terjual.

"Untuk membeli kue bika ini harap sabar menunggu juga, karena kue akan dipanggang sesuai pesanan. Artinya, kue bika dijual dimasak atau dipanggang dulu, bukan telah terletak dan tinggal dijual. Kenapa demikian, karena kue bika paling enak di makan saat kue masih panas," sebutnya.

Datuak Panjang melihat kue bika merupakan salah satu makanan khas Minangkabau yang saat ini masih memiliki penikmat yang banyak. Tidak hanya di kalangan masyarakat lokal, tapi wisatawan yang datang ke Sumatera Barat, yang melintas di daerah Koto Baru ini, juga banyak yang suka dengan kue bika.

Keberadaan kue bika sepertinya masih eksis di era zaman yang kini hadir berbagai cita rasa makanan, baik itu makanan hasil kreasi maupun makanan modern. Hal ini dikarenakan, banyak anggapan banyak orang bahwa makanan tradisional lebih sehat ketimbang makanan yang berwarna warni.

Salah seorang pembeli kue bika di telaga Koto Baru, Ance mengatakan, kue bika benar-benar lezat, lembut di lidah, dan parutan kelapa yang halus, serta rasa manis yang membuat tidak puas jika hanya mencicipi satu kue saja.

"Saya cukup sering membeli kue bika ini bersama keluarga. Saya lebih sering makan di kedainya ketimbang bungkus dan di rumah, karena kue bika paling lezat dimakan diwaktu masih panas. Harganya murah, lezat, dan tidak pakai pengawet, jadi cocok untuk makan bersama keluarga," jelasnya.

Ance menyebutkan kue bika akan paling enak, apabila di hidangkan juga segelas kopi hangat. Hal ini dikarenakan, daerah yang memiliki suhu udara yang dingin, menikmati sajian panas akan semakin mantap.

"Kalau makan bika nya jangan khawatir bakal bayar mahal. Segelas kopi hanya Rp5.000 dan bika hanya Rp2.000 untuk satu bika. Nah dengan harga demikian, jangan khawatir untuk menikmati bika ditemani segelas kopi hitam. Karena rasa adalah hal terpenting untuk dinikmati, dan bika lah makan yang mampu memenuhi kebutuhan itu," tegasnya.

Di Sumatera Barat, kue bika ini tidak hanya ada di Koto Baru Kabupaten Tanah Datar, tapi disepanjang jalan Kayutanam Kabupaten Padang Pariaman, juga banyak menjual kue bika, dengan berbagai rasa, seperti rasa gula merah. Cara membanggakan pun berbeda, ada yang menggunakan bara dari sebut kelapa dan dari kayu bakar. (*)