arrow_upward
settings_brightness

ReferensiKita - Berbicara soal nasib, tidak ada yang tahu bagaimana ke depannya. Ada yang mencoba mengarahkan nasib melalui jenjang pendidikan. Bercita-cita jadi dokter, dimulailah pendidikannya di kedokteran. Ingin menjadi polisi, pendidikan pun ditempuh di sekolah kepolisian. Begitulah rentetan jenjang pendidikan yang banyak dilakukan banyak orang untuk mencapai sebuah cita-cita.

Tapi, ada nasib yang berbeda di alami oleh Al Amin Buyung (31). Ia merupakan seorang lulusan sarjana di Jurusan Hukum Pidana dan Politik di Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat. Kini ia bukanlah seorang yang bekerja di bidang hukum ataupun menjadi seorang pakar hukum politik. Namun, nasib menghantarkannya menjadi seorang peternak ayam bangkok.

Perjalanan Amin untuk mencapai usaha beternak ayam bangkok sebenarnya sudah dilalukan sekitar 1,5 tahun. Sembari menunggu ayam-ayamnya tumbuh besar, Amin juga menekuni profesi seorang jurnalis di media online lokal Sumatera Barat prokabar.com untuk wilayah peliputan Kabupaten Pesisir Selatan.

Meski terbilang sebuah usaha sampingan, Amin ternyata sangat menikmati usaha tersebut. Baginya, beternak ayam bangkok memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Sebut saja untuk usia ayam bangkok jantan yang masih berusia 3 bulan sudah bisa dijual Rp300 ribu per ekor, sementara untuk usia 8 bulan bisa mencapai Rp500 ribu per ekornya. Sedangkan untuk ayam betina dijual agak lebih murah dari ayam jantan, seperti untuk usia ayam betina yang masih 2 bulan dijual Rp150 ribu per ekornya.

"Yang datang membeli ada dari Padang dan Mentawai. Jadi kalau soal penghasilan tidak menentu, tapi kalau di rata-ratakan ada sekitar Rp2 juta per bulannya," kata Amin saat memberikan keterangan kepada referensikita.id

Menurutnya, meski secara keilmuan pendidikannya adalah seorang yang paham tentang hukum di perguruan tinggi islam, tidak membuat dirinya kesulitan untuk menjadi seorang peternak ayam bangkok. Baginya, beternak ayam merupakan sebuah usaha yang banyak dilakukan orang, tanpa harus duduk di kursi perguruan tinggi.


"Saya melakukan semua ini, untuk menambah penghasilan keluarga. Lagian beternak ayam tidaklah terlalu sulit, dan tidak juga mengganggu profesi saya, dan saya sangat menikmati usaha ini, tapi untuk melakukan pengembangan masih terkendala modal," sebutnya.

Untuk memulai usaha beternak ayam bangkok ini, Amin menceritakan menghabiskan dana sebesar Rp6 juta. Dana itu digunakan untuk membuat kandang ayam yang dibangun persis di belakang rumahnya di Nagari Kapuh. Alasan memilih usaha beternak ayam pun, adalah alternatif terakhir karena keterbatasan modal.


"Kalau ada yang bantu permodalan, mungkin ternak ayam bangkok ini bisa saya kembangkan. Kini ada 300 ekor ayam yang saya ternak. Rencana ingin lebih banyak lagi jumlah bibit ayam bangkok nya. Tapi sejauh ini belum bisa saya lakukan,"


Menurut Amin, pangsa pasar beternak ayam cukup bagus. Untuk itu, target ke depan ingin mengembangkan usaha. Jadi, persoalan sarjana dari usaha ini, tidak ada. Namun baginya, selagi usahanya halal, tidak ada yang perlu gengsikan.

Singkat cerita dari Al Amin Buyung ini,  cukup menginspirasi bagi lulusan sarjana yang mungkin masih menganggur. Intinya, jangan terbatas dari keilmuan sarjana. Lakukanlah apa yang bisa dilakukan, selagi itu halal dan mampu untuk menjalankannya. Semoga usaha Amin, dapat jadi referensi banyak orang, dan dapat menginspirasi bagi para sarjana yang masih belum memiliki pekerjaan. (*) 

Si Amin, Sarjana Hukum yang Menapaki Usaha Beternak Ayam Bangkok

Friday, August 09, 2019 : 13:59

ReferensiKita - Berbicara soal nasib, tidak ada yang tahu bagaimana ke depannya. Ada yang mencoba mengarahkan nasib melalui jenjang pendidikan. Bercita-cita jadi dokter, dimulailah pendidikannya di kedokteran. Ingin menjadi polisi, pendidikan pun ditempuh di sekolah kepolisian. Begitulah rentetan jenjang pendidikan yang banyak dilakukan banyak orang untuk mencapai sebuah cita-cita.

Tapi, ada nasib yang berbeda di alami oleh Al Amin Buyung (31). Ia merupakan seorang lulusan sarjana di Jurusan Hukum Pidana dan Politik di Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat. Kini ia bukanlah seorang yang bekerja di bidang hukum ataupun menjadi seorang pakar hukum politik. Namun, nasib menghantarkannya menjadi seorang peternak ayam bangkok.

Perjalanan Amin untuk mencapai usaha beternak ayam bangkok sebenarnya sudah dilalukan sekitar 1,5 tahun. Sembari menunggu ayam-ayamnya tumbuh besar, Amin juga menekuni profesi seorang jurnalis di media online lokal Sumatera Barat prokabar.com untuk wilayah peliputan Kabupaten Pesisir Selatan.

Meski terbilang sebuah usaha sampingan, Amin ternyata sangat menikmati usaha tersebut. Baginya, beternak ayam bangkok memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Sebut saja untuk usia ayam bangkok jantan yang masih berusia 3 bulan sudah bisa dijual Rp300 ribu per ekor, sementara untuk usia 8 bulan bisa mencapai Rp500 ribu per ekornya. Sedangkan untuk ayam betina dijual agak lebih murah dari ayam jantan, seperti untuk usia ayam betina yang masih 2 bulan dijual Rp150 ribu per ekornya.

"Yang datang membeli ada dari Padang dan Mentawai. Jadi kalau soal penghasilan tidak menentu, tapi kalau di rata-ratakan ada sekitar Rp2 juta per bulannya," kata Amin saat memberikan keterangan kepada referensikita.id

Menurutnya, meski secara keilmuan pendidikannya adalah seorang yang paham tentang hukum di perguruan tinggi islam, tidak membuat dirinya kesulitan untuk menjadi seorang peternak ayam bangkok. Baginya, beternak ayam merupakan sebuah usaha yang banyak dilakukan orang, tanpa harus duduk di kursi perguruan tinggi.


"Saya melakukan semua ini, untuk menambah penghasilan keluarga. Lagian beternak ayam tidaklah terlalu sulit, dan tidak juga mengganggu profesi saya, dan saya sangat menikmati usaha ini, tapi untuk melakukan pengembangan masih terkendala modal," sebutnya.

Untuk memulai usaha beternak ayam bangkok ini, Amin menceritakan menghabiskan dana sebesar Rp6 juta. Dana itu digunakan untuk membuat kandang ayam yang dibangun persis di belakang rumahnya di Nagari Kapuh. Alasan memilih usaha beternak ayam pun, adalah alternatif terakhir karena keterbatasan modal.


"Kalau ada yang bantu permodalan, mungkin ternak ayam bangkok ini bisa saya kembangkan. Kini ada 300 ekor ayam yang saya ternak. Rencana ingin lebih banyak lagi jumlah bibit ayam bangkok nya. Tapi sejauh ini belum bisa saya lakukan,"


Menurut Amin, pangsa pasar beternak ayam cukup bagus. Untuk itu, target ke depan ingin mengembangkan usaha. Jadi, persoalan sarjana dari usaha ini, tidak ada. Namun baginya, selagi usahanya halal, tidak ada yang perlu gengsikan.

Singkat cerita dari Al Amin Buyung ini,  cukup menginspirasi bagi lulusan sarjana yang mungkin masih menganggur. Intinya, jangan terbatas dari keilmuan sarjana. Lakukanlah apa yang bisa dilakukan, selagi itu halal dan mampu untuk menjalankannya. Semoga usaha Amin, dapat jadi referensi banyak orang, dan dapat menginspirasi bagi para sarjana yang masih belum memiliki pekerjaan. (*)