arrow_upward
settings_brightness
Zulmita saat berada di kawasan Wisata Rumah Inyiak Bukittinggi. Foto: ReferensiKita.id
ReferensiKita.id - Indonesia adalah sebuah negara yang memiliki destinasi wisata yang begitu luar biasa. Sebut saja pesona alam di Raja Ampat Papua, yang merupakan sebuah destinasi wisata yang berada di ujung Timur Indonesia. Kepopulerannya kini, tidaklah semudah yang dibayangkan. Papua yang berada di ujung Timur Indonesia itu, mungkin masih banyak rakyat di Indonesia yang belum pernah datang ke bumi Cenderawasih ini.

Setelah di destinasi wisata di Papua, terbang ke Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Di sana juga terdapat sebuah destinasi wisata yang terbilang belum begitu tereksplorasi dengan baik, yakni Air Terjun Telun Berasap. Seperti dijelaskan di situs pegipegi.com, wisata alam ini berada di Desa Telun Berasap dan desa itu masuk wilayah Kabupaten Kerinci. Pesonanya itu, air terjun yang diselimuti kabut air yang menguap di sekitar air terjun. Kabut ini sendiri tercipta dari proses jatuhnya air dari ketinggian 50 meter.

Keistimewaan Air Terjun Telun Berasap kian nampak saat bulir-bulir air yang beterbangan dan terkena cahaya matahari. Di antara kabut yang lembap, kamu akan melihat pertunjukan kemilau warna-warni pelangi, tanpa harus menunggu hujan turun. Indonesia, benar-benar memiliki pesona alam yang amat indah.

Masih di Pulau Sumatera Barat, dari Jambi menuju ke Provinsi Sumatera Barat. Berbicara wisata Raja Ampat, di Sumatera Barat tepatnya di daerah Tarusan yang ada di Kabupaten Pesisir Selatan yang dikenal dengan Mandeh, juga terdapat pemandangan yang nyaris sama indahnya dengan wisata Raja Ampat di Papua. Dan kini, wisata Mandeh menjadi populer dan menjadi viral di berbagai media sosial.

Pertanyaan di sini, siapa yang telah membuat Mandeh menjadi lokasi yang populer? Apakah kepala daerahnya, atau malah nelayan yang ada di kawasan Mandeh? Jawabannya, populernya wisata Mandeh, karena peran dari tren anak-anak muda atau generasi milenial berfoto atau selfie di tempat-tempat yang memiliki pemandangan yang menakjubkan. Media sosial, ternyata secara tidak langsung telah menjadikan generasi milenial sebagai promotor pariwisata di Indonesia dan khususnya di Kabupaten Pesisir Selatan.

Dengan disebarkannya foto-foto pemandangan yang ada di Mandeh, muncul pertanyaan dari berbagai masyarakat yang menggunakan akun media sosial terkait lokasi, akses jalan, dan banyak hal lainnya. Dari sini, bermula terwujudkanya promosi wisata yang dilakukan oleh masyarakat, dan ternyata hal tersebut dianggap penting oleh masyarakat yang menerima informasi tersebut, terutama bagi yang ingin menjajaki wisata baru.

Penyebaran wisata melalui media sosial itu, ibarat obrolan yang berlangsung di warung-warung. Pesannya pun menyebar dari mulut ke mulut, dan setelah keluar dari warung, orang-orang yang berada di dalam warung itu, akan menyebarkan informasi yang sama, ketika berada di tempat yang berbeda pula. Bisa ketika duduk bersama keluarga, sahabat, maupun teman sekantor, sehingga cerita itu bisa tersebar.

Akan tetapi dalam hal peran generasi milenial sebagai promotor pariwisata, ada kendala dalam hal fasilitas seperti jaringan internet saat berada di sebuah spot wisata. Bisa dikatakan, karakter para milenial itu, ingin segera disebarkan tanpa harus menunda dalam jangka waktu yang lama. Apalagi kini dengan adanya sistem media sosial yang bisa live (siaran langsung)  untuk merekam suasana objek gambar yang hendak diambilnya. Situasi ini  kebutuhan jaringan internet sangat dibutuhkan.

Terkadang, berbicara kendala jaringan internet, ada pengelola wisata di Sumatera Barat, yang memahami betul kebutuhan para milenial saat berwisata. Seperti halnya yang dilakukan pengelolah Wisata Rumah Inyiak yang ada di Kota Bukittinggi. Tempat ini berada di kawasan Ngarai Sianok Bukittinggi. Di sana, setiap pengunjung yang datang disediakan wifi yang dapat digunakan di lingkungan Wisata Rumah Inyiak.

Zulmita berfoto di jembatan Rumah Pohon Inyiak Bukittinggi dan spot ini merupakan spot populer pengunjung. Foto: ReferensiKita.id
Ternyata fasilitas yang disediakan itu, dapat memberikan kepuasaan bagi para milenial. Dari keterangan salah seorang pengunjung asal Kabupaten Pesisir Selatan, Zulmita (23), mengatakan, kawasan Wisata Rumah Inyiak memiliki banyak spot - spot foto. Dengan hadirnya fasilitas wifi, foto-foto yang telah tersimpan di galeri smartphone nya, bisa langsung di share ke akun media sosial miliknya.

"Tempatnya bagus, mulai dari desain tempat dan hal lainnya. Apalagi tempat ini sangat baru ada di Kota Bukittinggi. Jadi setelah saya berfoto-foto di sini, langsung saya kirim ke media sosial saya, biar nanti teman-teman penasaran datang ke sini," ujarnya, beberapa waktu lalu di Bukittinggi.

Cerita Zulmita, bentuk bukti kalau generasi adalah sebagai promotor pariwisata. Hal-hal semacam ini, sebaiknya perlu dilakukan oleh pengelolah wisata lainnya, sehingga tempat wisata bisa terkenal melalui promosi yang tersebar di berbagai media sosial.

Nah, setelah adanya promosi yang dilakukan oleh para generasi milenial itu, platform digital juga turut hadir dengan berbagai informasi lengkapnya. Mulai dari informasi seputar fasilitas, dan hal menarik lainnya, yang ada di suatu lokasi wisata.

Hebatnya lagi, bermula dari peran milenial itu yang membuat sebuah destinasi wisata populer, platform digital hadir memberikan sejumlah informasi, seperti terkait penginapan yang terdekat untuk mengakses tempat wisata yang hendak dikunjungi oleh masyarakat yang berada luar dari tempat wisata. Serta menyediakan tarif penerbangan, yang dapat menghantarkan langsung calon wisatawan untuk sampai ke tempat yang hendak dituju.

Ada cerita dari Muhammad Naim (21), seorang wisatawan asal Malaysia yang datang ke Bukittinggi bersama keluarganya. Ia mengaku mengetahui seputar wisata di Kota Bukittinggi,  dari berbagai sumber media sosial dan platform digital.

"Saya paling banyak dapat informasi wisata itu di Instagram. Kalau di Sumatera Barat ini banyak akun Instagram yang menyajikan informasi wisatanya, seperti GenPi Sumbar (@genpisumbar) dan ada beberap info dari instagramnya Good News From Indonesia (@gnfi)," ujarnya.

Naim juga menceritakan dari media sosial dimaksud, tidak hanya informasi tentang tempat - tempat wisata  yang ia peroleh. Tapi juga ada ulasan sejumlah kuliner. Sehingga melalui foto-foto kuliner yang tersebar itu, membuatnya tergiur untuk datang ke Bukittinggi. Apalagi Bukittinggi, memiliki banyak kuliner yang begitu lezat.

"Jadi untuk makanan, saya sering foto setiap kuliner yang saya cicipi, dan langsung menyebarkannya ke group WA. Dan banyak teman - teman minta ikut ke Bukittinggi," ucapnya.

Perkembangan promosi pariwisata tersebut, hingga kini terus berkembang dari masa ke masa. Bahkan banyak masyarakat lebih cenderung mencari informasi pariwisata ke media sosial dan situs-situs blog, ketimbang ke sebuah media massa. Keberadaan media sosial dan platform digital, berdampak kepada perubahan selera masyarakat.

Menteri Pariwisata (Menpar) RI Arief Yahya saat di acara tentang Pariwisata di Era Industri 4.0. Foto: kemenpar.go.id
Peran dari para milenial ini, secara tidak langsung telah menjawab apa yang telah diinginkan oleh Menteri Pariwisata (Menpar) RI Arief Yahya melalui situs resmi kemenpar.go.id yang mengajak kaum milenial untuk memanfaatkan keunggulan pariwisata di era revolusi industri 4.0 atau Tourism 4.0 untuk memenangkan persaingan sektor pariwisata di pasar global.

Pada kesempatan itu, Menpar menjelaskan ada terjadi berubahan perilaku wisatawan yang sangat digital, selain juga semakin dominannya travellers milenial. Setidaknya ada sekitar 70 persen travellers melakukan ‘search dan share’ melalui platform digital dan lebih dari 50 persen inbound travellers adalah kaum milenial.

Di kesempatan itu, Menpar Arief Yahya bersama narasumber Hetifah Sjaifudian, Wakil Ketua Komisi X DPR-RI dalam acara Millennial Gathering 2019 menjelaskan, era industri 4.0 akan mengubah serta mendisrupsi industri pariwisata secara mendasar dengan terwujudnya “cost value” atau dikenal dengan “more for less, experience value (personalized)”, dan platform value (resources sharing) yang dinikmati para travellers.

Terwujudnya seamless dan personalized experience, menurut Arief Yahya, karena adanya peran teknologi 4.0 antara lain big data analytics,  artificial intelligence, internet of things (IoT), robotics, augmented reality, cloud computing,  maupun blockchain. Sebagai contoh konkrit, adanya robotic airport guide/helper memungkinkan dan membantu para travellers mempercepat proses check-in dan boarding di bandara.

Selain itu dengan memanfaakan teknologi augmented reality (AR) juga memungkinkan munculnya pelayanan e-concierge, m-payment, atau personal assistant di hotel. Begitu pula adanya teknologi virtual reality menjadikan seluruh informasi destinasi wisata tidak lagi melalui brosur atau penjelasan para guide, akan tetapi sudah memanfaatkan teknologi virtual reality lewat smartphone di tangan para travellers. (*)

Era Tourism 4.0 Saatnya Milenial jadi Promotor Pariwisata

Wednesday, August 14, 2019 : 18:40
Zulmita saat berada di kawasan Wisata Rumah Inyiak Bukittinggi. Foto: ReferensiKita.id
ReferensiKita.id - Indonesia adalah sebuah negara yang memiliki destinasi wisata yang begitu luar biasa. Sebut saja pesona alam di Raja Ampat Papua, yang merupakan sebuah destinasi wisata yang berada di ujung Timur Indonesia. Kepopulerannya kini, tidaklah semudah yang dibayangkan. Papua yang berada di ujung Timur Indonesia itu, mungkin masih banyak rakyat di Indonesia yang belum pernah datang ke bumi Cenderawasih ini.

Setelah di destinasi wisata di Papua, terbang ke Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Di sana juga terdapat sebuah destinasi wisata yang terbilang belum begitu tereksplorasi dengan baik, yakni Air Terjun Telun Berasap. Seperti dijelaskan di situs pegipegi.com, wisata alam ini berada di Desa Telun Berasap dan desa itu masuk wilayah Kabupaten Kerinci. Pesonanya itu, air terjun yang diselimuti kabut air yang menguap di sekitar air terjun. Kabut ini sendiri tercipta dari proses jatuhnya air dari ketinggian 50 meter.

Keistimewaan Air Terjun Telun Berasap kian nampak saat bulir-bulir air yang beterbangan dan terkena cahaya matahari. Di antara kabut yang lembap, kamu akan melihat pertunjukan kemilau warna-warni pelangi, tanpa harus menunggu hujan turun. Indonesia, benar-benar memiliki pesona alam yang amat indah.

Masih di Pulau Sumatera Barat, dari Jambi menuju ke Provinsi Sumatera Barat. Berbicara wisata Raja Ampat, di Sumatera Barat tepatnya di daerah Tarusan yang ada di Kabupaten Pesisir Selatan yang dikenal dengan Mandeh, juga terdapat pemandangan yang nyaris sama indahnya dengan wisata Raja Ampat di Papua. Dan kini, wisata Mandeh menjadi populer dan menjadi viral di berbagai media sosial.

Pertanyaan di sini, siapa yang telah membuat Mandeh menjadi lokasi yang populer? Apakah kepala daerahnya, atau malah nelayan yang ada di kawasan Mandeh? Jawabannya, populernya wisata Mandeh, karena peran dari tren anak-anak muda atau generasi milenial berfoto atau selfie di tempat-tempat yang memiliki pemandangan yang menakjubkan. Media sosial, ternyata secara tidak langsung telah menjadikan generasi milenial sebagai promotor pariwisata di Indonesia dan khususnya di Kabupaten Pesisir Selatan.

Dengan disebarkannya foto-foto pemandangan yang ada di Mandeh, muncul pertanyaan dari berbagai masyarakat yang menggunakan akun media sosial terkait lokasi, akses jalan, dan banyak hal lainnya. Dari sini, bermula terwujudkanya promosi wisata yang dilakukan oleh masyarakat, dan ternyata hal tersebut dianggap penting oleh masyarakat yang menerima informasi tersebut, terutama bagi yang ingin menjajaki wisata baru.

Penyebaran wisata melalui media sosial itu, ibarat obrolan yang berlangsung di warung-warung. Pesannya pun menyebar dari mulut ke mulut, dan setelah keluar dari warung, orang-orang yang berada di dalam warung itu, akan menyebarkan informasi yang sama, ketika berada di tempat yang berbeda pula. Bisa ketika duduk bersama keluarga, sahabat, maupun teman sekantor, sehingga cerita itu bisa tersebar.

Akan tetapi dalam hal peran generasi milenial sebagai promotor pariwisata, ada kendala dalam hal fasilitas seperti jaringan internet saat berada di sebuah spot wisata. Bisa dikatakan, karakter para milenial itu, ingin segera disebarkan tanpa harus menunda dalam jangka waktu yang lama. Apalagi kini dengan adanya sistem media sosial yang bisa live (siaran langsung)  untuk merekam suasana objek gambar yang hendak diambilnya. Situasi ini  kebutuhan jaringan internet sangat dibutuhkan.

Terkadang, berbicara kendala jaringan internet, ada pengelola wisata di Sumatera Barat, yang memahami betul kebutuhan para milenial saat berwisata. Seperti halnya yang dilakukan pengelolah Wisata Rumah Inyiak yang ada di Kota Bukittinggi. Tempat ini berada di kawasan Ngarai Sianok Bukittinggi. Di sana, setiap pengunjung yang datang disediakan wifi yang dapat digunakan di lingkungan Wisata Rumah Inyiak.

Zulmita berfoto di jembatan Rumah Pohon Inyiak Bukittinggi dan spot ini merupakan spot populer pengunjung. Foto: ReferensiKita.id
Ternyata fasilitas yang disediakan itu, dapat memberikan kepuasaan bagi para milenial. Dari keterangan salah seorang pengunjung asal Kabupaten Pesisir Selatan, Zulmita (23), mengatakan, kawasan Wisata Rumah Inyiak memiliki banyak spot - spot foto. Dengan hadirnya fasilitas wifi, foto-foto yang telah tersimpan di galeri smartphone nya, bisa langsung di share ke akun media sosial miliknya.

"Tempatnya bagus, mulai dari desain tempat dan hal lainnya. Apalagi tempat ini sangat baru ada di Kota Bukittinggi. Jadi setelah saya berfoto-foto di sini, langsung saya kirim ke media sosial saya, biar nanti teman-teman penasaran datang ke sini," ujarnya, beberapa waktu lalu di Bukittinggi.

Cerita Zulmita, bentuk bukti kalau generasi adalah sebagai promotor pariwisata. Hal-hal semacam ini, sebaiknya perlu dilakukan oleh pengelolah wisata lainnya, sehingga tempat wisata bisa terkenal melalui promosi yang tersebar di berbagai media sosial.

Nah, setelah adanya promosi yang dilakukan oleh para generasi milenial itu, platform digital juga turut hadir dengan berbagai informasi lengkapnya. Mulai dari informasi seputar fasilitas, dan hal menarik lainnya, yang ada di suatu lokasi wisata.

Hebatnya lagi, bermula dari peran milenial itu yang membuat sebuah destinasi wisata populer, platform digital hadir memberikan sejumlah informasi, seperti terkait penginapan yang terdekat untuk mengakses tempat wisata yang hendak dikunjungi oleh masyarakat yang berada luar dari tempat wisata. Serta menyediakan tarif penerbangan, yang dapat menghantarkan langsung calon wisatawan untuk sampai ke tempat yang hendak dituju.

Ada cerita dari Muhammad Naim (21), seorang wisatawan asal Malaysia yang datang ke Bukittinggi bersama keluarganya. Ia mengaku mengetahui seputar wisata di Kota Bukittinggi,  dari berbagai sumber media sosial dan platform digital.

"Saya paling banyak dapat informasi wisata itu di Instagram. Kalau di Sumatera Barat ini banyak akun Instagram yang menyajikan informasi wisatanya, seperti GenPi Sumbar (@genpisumbar) dan ada beberap info dari instagramnya Good News From Indonesia (@gnfi)," ujarnya.

Naim juga menceritakan dari media sosial dimaksud, tidak hanya informasi tentang tempat - tempat wisata  yang ia peroleh. Tapi juga ada ulasan sejumlah kuliner. Sehingga melalui foto-foto kuliner yang tersebar itu, membuatnya tergiur untuk datang ke Bukittinggi. Apalagi Bukittinggi, memiliki banyak kuliner yang begitu lezat.

"Jadi untuk makanan, saya sering foto setiap kuliner yang saya cicipi, dan langsung menyebarkannya ke group WA. Dan banyak teman - teman minta ikut ke Bukittinggi," ucapnya.

Perkembangan promosi pariwisata tersebut, hingga kini terus berkembang dari masa ke masa. Bahkan banyak masyarakat lebih cenderung mencari informasi pariwisata ke media sosial dan situs-situs blog, ketimbang ke sebuah media massa. Keberadaan media sosial dan platform digital, berdampak kepada perubahan selera masyarakat.

Menteri Pariwisata (Menpar) RI Arief Yahya saat di acara tentang Pariwisata di Era Industri 4.0. Foto: kemenpar.go.id
Peran dari para milenial ini, secara tidak langsung telah menjawab apa yang telah diinginkan oleh Menteri Pariwisata (Menpar) RI Arief Yahya melalui situs resmi kemenpar.go.id yang mengajak kaum milenial untuk memanfaatkan keunggulan pariwisata di era revolusi industri 4.0 atau Tourism 4.0 untuk memenangkan persaingan sektor pariwisata di pasar global.

Pada kesempatan itu, Menpar menjelaskan ada terjadi berubahan perilaku wisatawan yang sangat digital, selain juga semakin dominannya travellers milenial. Setidaknya ada sekitar 70 persen travellers melakukan ‘search dan share’ melalui platform digital dan lebih dari 50 persen inbound travellers adalah kaum milenial.

Di kesempatan itu, Menpar Arief Yahya bersama narasumber Hetifah Sjaifudian, Wakil Ketua Komisi X DPR-RI dalam acara Millennial Gathering 2019 menjelaskan, era industri 4.0 akan mengubah serta mendisrupsi industri pariwisata secara mendasar dengan terwujudnya “cost value” atau dikenal dengan “more for less, experience value (personalized)”, dan platform value (resources sharing) yang dinikmati para travellers.

Terwujudnya seamless dan personalized experience, menurut Arief Yahya, karena adanya peran teknologi 4.0 antara lain big data analytics,  artificial intelligence, internet of things (IoT), robotics, augmented reality, cloud computing,  maupun blockchain. Sebagai contoh konkrit, adanya robotic airport guide/helper memungkinkan dan membantu para travellers mempercepat proses check-in dan boarding di bandara.

Selain itu dengan memanfaakan teknologi augmented reality (AR) juga memungkinkan munculnya pelayanan e-concierge, m-payment, atau personal assistant di hotel. Begitu pula adanya teknologi virtual reality menjadikan seluruh informasi destinasi wisata tidak lagi melalui brosur atau penjelasan para guide, akan tetapi sudah memanfaatkan teknologi virtual reality lewat smartphone di tangan para travellers. (*)