arrow_upward
settings_brightness
Lapek koci yang terbungkus daun pisang dan siap untuk disantap. Foto: ReferensiKita.id

ReferensiKita.id -
Lapek koci, rasa yang lembut di lidah, perpaduan rasa kacang hijau dan manisnya gula aren, merupakan salah satu kuliner di Kota Padang, Sumatera Barat, yang kini dikenal jarang dijual di warung-warung rakyat.

Lapek koci merupakan kuliner yang hanya bisa ditemui di Kota Padang. Karena kuliner ini diproduksi dari tangan-tangan para ibu rumah tangga yang merupakan pendudukan asli masyarakat Minang. Sementara daerah lainnya di Sumatera Barat, tidak ada yang membuat lapek koci. Tapi apabila melihat dari segi kemasannya, hampir sama dengan kuliner lapek bugi atau beras ketan.

Soal rasa, lapek koci tidak diragukan lagi. Karena dengan perpaduan kacang ijo, beras ketan putih, dan gula merah aren, membuat lapek begitu enak untuk jadi makanan cemilan. Rasa yang membuat lapek ini lezat, bungkusan lapeknya masih menggunakan daun pisang, dan dimasak secara tradisional.

Tapi sayang, keberadaan lapek koci yang lezat ini, terbilang tidak begitu banyak di jual. Bahkan warung-warung kecil, seperti di kawasan komplek, di sekolah-sekolah, ataupun di lungkungan per kantoran, juga sulit untuk ditemukan. Nah, sebenarnya apa yang membuat lapek koci  tidak se eksis kuliner lainnya.

Eli masyarakat yang beruntung bisa memesan lapek koci, mengatakan, untuk mendapatkan lapek koci ia harus memesannnya kepada yang membuat kue jauh-jauh hari. Seperti halnya untuk momen Idul Adha belum lama ini, Eli memesannya tiga hari sebelum tiba Idul Adha. Alasan yang membuat harus memesan jauh-jauh hari, karena untuk membuat adonannya itu butuh waktu dan menyediakan bahan utamanya yakni kacang hijau, beras ketan putih, dan gula merah.

"Iya saya mesan dulu, kue lapek poci untuk sajian keluarga usai pulang shalat Idul Adha. Kalau dilihat dari ukurannya, memang tidak terlalu besar, tapi harganya per butir itu Rp2.500. Beda dengan kue pada umumnya hanya Rp1.000 per butir. Tapi wajarlah harga segitu, enak soalnya," katanya.

Ia mengaku cukup sulit menemukan lapek koci di Kota Padang, persoalan tidak banya diproduksi oleh yang membuatnya, karena minat masyarakat terhadap lapek koci belum begitu banyak jika dibandingkan kuliner lainnya. Apalagi kalau dilihat dari sejarahnya, lapek poci sebenarnya bukanlah makanan yang diperjual belikan di warung-warung. Tapi lapek koci dihadirkan untuk mengisi sajian acara pernikahan, sebagai makanan pencuci mulut.

"Sebenarnya lapek poci untuk acara pernikahan. Tapi dikarenakan dinilai bagus untuk dipasarkan, maka dilakukanlah untuk dipasarkan. Caranya harus pesan dulu, bukan diproduksi lalu di jual," ucapnya.

Eli mengatakan untuk membuat koci sebenarnya tidaklah rumit, hanya saja untuk membuat lapek koci, cukup menghabiskan waktu. Karena untuk membuat lapek koci itu dilakukan di malam harinya. Panjangnya proses, karena untuk membuat lapek poci, hal utama yang dilakukan ialah membuat kacang hijau dihaluskan, lalu ada tepung beras ketan putih, dan ada pula pengadukan adonan yang dicampuri gula merah aren.

Ia menjelaskan ada sejumlah bbahan-bahan yang perlu dipersiapkan untuk membuat lapek koci, yakni 500 gram kacang hijau (giling atau ayak), 350 gram gula merah (cairkan dan rebus), 100 gram gula putih (rebus dengan gula merah).

Bumbu selanjutnya, perlu ada 500 gram ketan putih, 100 gram tepung beras, 3 gelas santan dari 3 kelapa, 1 sendok makan garam halus, 300 gram gula merah cairkan dengan sedikit air (rebus), 100 gram gula pasir rebus, dan masukkan ke dalam gula merah
1 sendok teh vanili

Sedangkan untuk membuatnya, bahan itu dicampur jadi satu, bulatkan sebesar kelereng. Bahan kulit campurkan jadi satu, sampai menajdi adonan. Biarkan selama 20 menit ambil daun pisang yang sudah digunting bulat. Daun pisang sebelumnya dijemur supaya lemas. Kemudian letakkan adonan di atas daun pisang lalu masukkan adonan isi, sampai tidak kelihatan.

Preoses lainnya, bungkuslah lapek itu seperti seperti pyramid, kukus selama 30 menit, setelah itu barulah lapek koci siap disajikan. Panjangnya proses membuat lapek kocil ini, mulai dari penyiapkan bahan, adonan, dan menunggu masak, maka tak jarang untuk dapat menikmati lapek poci ini di malam harinya.

"Proses saja sudah begitu lama, jadi harga Rp2.500 per butir wajar saja. Saya saja kemarin memesannya sebenyak Rp50.000 untuk sajian cemilan keluarga," jelasnya.

Ia berharap, lapek koci bisa lebih banyak diproduksi oleh masyarakat, sehingga kuliner tradisional di Minang ini tidak hilang ditelan zaman. Apalagi kini selera milenial sudah banyak beralih ke makanan siap saji. Artinya jika tidak dibiasakan mencicipi kepada para milenial, ke depan lapek koci tidak bakalan ada yang menikmatinya, dan akibatnya lapek koci tidak bakalan ada lagi di Sumatera Barat ini. (*)

Lapek Koci Kacang Hijau Kuliner Langka di Padang

Saturday, August 17, 2019 : 21:05
Lapek koci yang terbungkus daun pisang dan siap untuk disantap. Foto: ReferensiKita.id

ReferensiKita.id -
Lapek koci, rasa yang lembut di lidah, perpaduan rasa kacang hijau dan manisnya gula aren, merupakan salah satu kuliner di Kota Padang, Sumatera Barat, yang kini dikenal jarang dijual di warung-warung rakyat.

Lapek koci merupakan kuliner yang hanya bisa ditemui di Kota Padang. Karena kuliner ini diproduksi dari tangan-tangan para ibu rumah tangga yang merupakan pendudukan asli masyarakat Minang. Sementara daerah lainnya di Sumatera Barat, tidak ada yang membuat lapek koci. Tapi apabila melihat dari segi kemasannya, hampir sama dengan kuliner lapek bugi atau beras ketan.

Soal rasa, lapek koci tidak diragukan lagi. Karena dengan perpaduan kacang ijo, beras ketan putih, dan gula merah aren, membuat lapek begitu enak untuk jadi makanan cemilan. Rasa yang membuat lapek ini lezat, bungkusan lapeknya masih menggunakan daun pisang, dan dimasak secara tradisional.

Tapi sayang, keberadaan lapek koci yang lezat ini, terbilang tidak begitu banyak di jual. Bahkan warung-warung kecil, seperti di kawasan komplek, di sekolah-sekolah, ataupun di lungkungan per kantoran, juga sulit untuk ditemukan. Nah, sebenarnya apa yang membuat lapek koci  tidak se eksis kuliner lainnya.

Eli masyarakat yang beruntung bisa memesan lapek koci, mengatakan, untuk mendapatkan lapek koci ia harus memesannnya kepada yang membuat kue jauh-jauh hari. Seperti halnya untuk momen Idul Adha belum lama ini, Eli memesannya tiga hari sebelum tiba Idul Adha. Alasan yang membuat harus memesan jauh-jauh hari, karena untuk membuat adonannya itu butuh waktu dan menyediakan bahan utamanya yakni kacang hijau, beras ketan putih, dan gula merah.

"Iya saya mesan dulu, kue lapek poci untuk sajian keluarga usai pulang shalat Idul Adha. Kalau dilihat dari ukurannya, memang tidak terlalu besar, tapi harganya per butir itu Rp2.500. Beda dengan kue pada umumnya hanya Rp1.000 per butir. Tapi wajarlah harga segitu, enak soalnya," katanya.

Ia mengaku cukup sulit menemukan lapek koci di Kota Padang, persoalan tidak banya diproduksi oleh yang membuatnya, karena minat masyarakat terhadap lapek koci belum begitu banyak jika dibandingkan kuliner lainnya. Apalagi kalau dilihat dari sejarahnya, lapek poci sebenarnya bukanlah makanan yang diperjual belikan di warung-warung. Tapi lapek koci dihadirkan untuk mengisi sajian acara pernikahan, sebagai makanan pencuci mulut.

"Sebenarnya lapek poci untuk acara pernikahan. Tapi dikarenakan dinilai bagus untuk dipasarkan, maka dilakukanlah untuk dipasarkan. Caranya harus pesan dulu, bukan diproduksi lalu di jual," ucapnya.

Eli mengatakan untuk membuat koci sebenarnya tidaklah rumit, hanya saja untuk membuat lapek koci, cukup menghabiskan waktu. Karena untuk membuat lapek koci itu dilakukan di malam harinya. Panjangnya proses, karena untuk membuat lapek poci, hal utama yang dilakukan ialah membuat kacang hijau dihaluskan, lalu ada tepung beras ketan putih, dan ada pula pengadukan adonan yang dicampuri gula merah aren.

Ia menjelaskan ada sejumlah bbahan-bahan yang perlu dipersiapkan untuk membuat lapek koci, yakni 500 gram kacang hijau (giling atau ayak), 350 gram gula merah (cairkan dan rebus), 100 gram gula putih (rebus dengan gula merah).

Bumbu selanjutnya, perlu ada 500 gram ketan putih, 100 gram tepung beras, 3 gelas santan dari 3 kelapa, 1 sendok makan garam halus, 300 gram gula merah cairkan dengan sedikit air (rebus), 100 gram gula pasir rebus, dan masukkan ke dalam gula merah
1 sendok teh vanili

Sedangkan untuk membuatnya, bahan itu dicampur jadi satu, bulatkan sebesar kelereng. Bahan kulit campurkan jadi satu, sampai menajdi adonan. Biarkan selama 20 menit ambil daun pisang yang sudah digunting bulat. Daun pisang sebelumnya dijemur supaya lemas. Kemudian letakkan adonan di atas daun pisang lalu masukkan adonan isi, sampai tidak kelihatan.

Preoses lainnya, bungkuslah lapek itu seperti seperti pyramid, kukus selama 30 menit, setelah itu barulah lapek koci siap disajikan. Panjangnya proses membuat lapek kocil ini, mulai dari penyiapkan bahan, adonan, dan menunggu masak, maka tak jarang untuk dapat menikmati lapek poci ini di malam harinya.

"Proses saja sudah begitu lama, jadi harga Rp2.500 per butir wajar saja. Saya saja kemarin memesannya sebenyak Rp50.000 untuk sajian cemilan keluarga," jelasnya.

Ia berharap, lapek koci bisa lebih banyak diproduksi oleh masyarakat, sehingga kuliner tradisional di Minang ini tidak hilang ditelan zaman. Apalagi kini selera milenial sudah banyak beralih ke makanan siap saji. Artinya jika tidak dibiasakan mencicipi kepada para milenial, ke depan lapek koci tidak bakalan ada yang menikmatinya, dan akibatnya lapek koci tidak bakalan ada lagi di Sumatera Barat ini. (*)