arrow_upward
settings_brightness
Penampilan Tari Rantak. Foto: Kemendikbud RI

ReferensiKita.id - Sosok almarhumah Gusmiati Suid masih terukir jelas di hati para muridnya yang kini usia mereka tak lagi muda. Yeti, panggilan dari sang maeostro tari, yang merupakan perempuan kelahiran di kampung kecil yang berada di Parak Jua, Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat, pada 16 Agustus 1942 silam. Kini, Yeti memang telah tiada di dunia ini, tapi karya-karya dan didikan yang ditumpahkan kepada muridnya, ternyata para muridnya ini menyimpan rindu kepada sang maestro tari itu.

Rahmi Fahmi, SE, MBA, adalah salah seorang murid dari Gusmiati Suid sekitar 30 tahun yang lalu. Rahmi adalah seorang perempuan yang lahir dari sanggar tari Gumarang Sakti, yang turut belajar tari yang amat terkenal yakni tari Rantak.

Tari rantak merupakan karya dari Gusmiati Suid. Lahirnya tari Rantak, dari berbagai sumber menyebutkan, berawal dari ketidakpuasannya terhadap tarian Minang sebelumnya yang dianggapnya terlalu gemulai dan baku. Atas kegelisahannya itu, sang penata tari (koreografer) ini, mulai berpikir untuk melahirkan sebuah tari yang tidak gemulai. Singkat cerita, hingga akhirnya Yeti terinspirasi dari gerakan silek (silat) yang memang terlihat tegas. Dari gerakan silek itu, Yeti merancang sebuah tari dan esensi yang bukan asal-asalan, tapi memiliki gerakan yang memperkenalkan sebuah budaya di Minang yakni silek.

Sosok Gusmiati Suid Dimata Murid


Rahmi yang diberi kesempatan sebagai pemateri di kegiatan Semiloka Transformasi Silek dalam Karya Seni, Studi Kasus Penciptaan Tari Karya Gusmiati Suid, mengungkap banyak cerita tentang sosok gurunya. Mengawali sambutannya, tak dapat dihitung tetesan air mata Rahmi ketika menyebut tari Rantak karya sosok perempuan yang ia kaguminya itu.
Rahmi Fahmi, SE, MBA, ketika jadi pemateri di acara Semiloka Transformasi Silek dalam Karya Seni, Studi Kasus Penciptaan Tari Karya Gusmiati Suid, yang dihadiri puluhan seniman. Foto: ReferensiKita.id

Dari cerita singkat Rahmi, tari rantak yang ia pahami, ialah sebuah tari yang diperankan oleh seseorang yang tidak harus memiliki postur tubuh tinggi, tidak mengenal dengan tampang fisik yang harus cantik. Tapi untuk memerankan tari Rantak itu, pada dasarnya perlu mempelajari silek. Karena esensi tari Rantak yang dilahirkan oleh almarhumah ialah sebuah tari yang tidak gemulai dan baku.


"Kalau guru saya itu punya pandangan khusus yang tidak bisa kita pahami, bagaimana kriteria orang yang bisa dijadikan murid untuk berlatih tari Rantak itu, hanya beliau yang bisa memahaminya. Tapi dari yang saya lihat, postur tubuh dan kecantika bukanlah jadi tolak ukur pertama beliau. Ketika itu, saya berkesempatan untuk dilatih tari Rantak," katanya, kepada Blog Referensi Kita

Berbicara tentang kriteria dari yang dibutuhkan dalam belajar tari Rantak, Rahmi melihat ke zaman sekarang. Dimana banyak seniman memilih penari itu atas dasar postur tumbuh yakni harus tinggi dan langsung, serta memiliki parah wajah yang cantik atau tampan untuk laki-lakinya. Soal apakah ia bisa menari, dan apakah orang-orang yang seperti pas menarinya, seakan seperti menjadi persoalan yang sekian. Sementara Gusmiati Suid kebalikan dari hal itu.

Lalu, bagaimana dengan tari Rantak yang kini telah diajarkan disejumlah sanggar tari yang ada di Sumatera Barat? Rahmi menyatakan untuk melihat tari Rantak sesungguhnya, perlu dikenalkan standar sebuah tari Rantak, sehingga tidak lahir tari Rantak yang di inovasi sehingga lari dari esensi sebuah tari Rantak.

"Dulu itu, dalam penampilan tari rantak. Jika latar gelap, bahkan pakaian dari sang penari juga turut gelap, tata riah juga gelap. Kenapa demikian? biar penonton bisa merasakan esensi dari sebuah tari Rantak, yang kental dengan gerakan silek, dan bukan tari yang gemulai," tegas Rahmi yang merupakan mantan Rektor Universitas Dharma Andalas Padang ini, yang kini memililh menjadi dosen.

Sementara kini, banyak orang menyatakan kalau tari Rantak itu tidak seperti dulu lagi, dan bahkan bagi seniman yang memang kenal betul dengan tari Rantak merasa sedih, karena tari Rantak tidak setegas dulu dan banyak inovasi yang bukan membuat makin bagus, tapi malah makin jatuh nilainya.

Ciri Khas Tarik Rantak


Rahmi menjelaskan, di dalam tari Rantak yang didasari dari gerakan silek itu, yaitu tagak - tagak (berdiri tegak), yaitu gerakan yang melambangkan konsep merenung sebelum melakukan tindakan sesuatu. Ukua jo jangko (gerakan seperti mengukur), yaitu gerakan yang bermakna melakukan segala sesuatu harus sesuai dengan kemampuan dan diukur dengan baik. Pandang kutiko (memandang), yaitu gerakan yang memiliki makna kemampuan dalam menafsirkan sebuah peristiwa ataupun pelajaran dengan bijaksana dan tidak berat sebelah.

Selanjutnya, garak - garik (bergerak), yaitu gerakan yang memiliki makna inisiatif dalam melakukan sesuatu yang baik, kewaspadaan, dan penuh kepekaan. Raso Pareso, yaitu gerakan yang melambangkan pikiran yang telah menyatu dengan hati nurani.

"Jadi semua gerakan tersebut bermaksud untuk melestarikan kesenian Pencak Silat dan juga untuk menunjukkan filosofi yang sebenarnya dari semua gerakan Pencak Silat dan juga tari Rantak itu sendiri didalam kesatuan gerakan," ucapnya.

Menurutnya, dulunya tari rantak ini merupakan tari tradisional yang dinamis dan juga menarik untuk ditonton dan ditampilkan pada acara - acara adat dan kebudayaan, termasuk resepsi pernikahan berkebudayaan dan beradat Sumatera Barat.

Karya Dari Gusmiati Suid 


Gusmiati Suid. Foto: borobudurwriters.id

Melihat ke situs id.wikipedia.org Gusmiati Suid meninggal di Jakarta, 28 September 2001 pada umur 59 tahun adalah seorang penata tari (koreografer). Ia dipandang sebagai seorang maestro tari di dunia seni tari kontemporer Indonesia. Almarhum juga telah melahirkan beberapa karya seni tari terkenal, diantaranya tari Kabar Burung, Api Dalam Sekam dan tari Rantak pada tahun 1976. Sepanjang kariernya di dunia tari, Gusmiati telah menghasilkan sekurangnya 30 karya seni tari pementasan.

Penghargaan yang diterima Gusmiati dianggap berhasil menciptakan sesuatu yang baru dan meraih penghargaan di Pekan Tari Rakyat Indonesia pada tahun 1978. Ia juga telah beberapa kali mementaskan karyanya di luar negeri, diantaranya di Lausanne, Swiss, pada tahun 1980, dan di "Asia Festival of Theatre, Dance and Martial Art" di Calcutta, India, pada tahun 1987.

Pada tahun 1991 ia menerima penghargaan "Bessies Award" dari New York Dance and Performance. Sanggar tari Gumarang Sakti yang didirikannya pada tahun 1982 menjadi satu-satunya wakil Asia di dalam acara tari Internationalis Tanz Festival ke-6 di Jerman pada bulan Juni tahun 1994. Festival ini diselenggarakan untuk memperingati 100 tahun lahirnya tari modern. (*) 

Mengenal Tari Rantak Dari Murid Gusmiati Suid Sang Maestro Tari Indonesia

Thursday, August 22, 2019 : 22:21
Penampilan Tari Rantak. Foto: Kemendikbud RI

ReferensiKita.id - Sosok almarhumah Gusmiati Suid masih terukir jelas di hati para muridnya yang kini usia mereka tak lagi muda. Yeti, panggilan dari sang maeostro tari, yang merupakan perempuan kelahiran di kampung kecil yang berada di Parak Jua, Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat, pada 16 Agustus 1942 silam. Kini, Yeti memang telah tiada di dunia ini, tapi karya-karya dan didikan yang ditumpahkan kepada muridnya, ternyata para muridnya ini menyimpan rindu kepada sang maestro tari itu.

Rahmi Fahmi, SE, MBA, adalah salah seorang murid dari Gusmiati Suid sekitar 30 tahun yang lalu. Rahmi adalah seorang perempuan yang lahir dari sanggar tari Gumarang Sakti, yang turut belajar tari yang amat terkenal yakni tari Rantak.

Tari rantak merupakan karya dari Gusmiati Suid. Lahirnya tari Rantak, dari berbagai sumber menyebutkan, berawal dari ketidakpuasannya terhadap tarian Minang sebelumnya yang dianggapnya terlalu gemulai dan baku. Atas kegelisahannya itu, sang penata tari (koreografer) ini, mulai berpikir untuk melahirkan sebuah tari yang tidak gemulai. Singkat cerita, hingga akhirnya Yeti terinspirasi dari gerakan silek (silat) yang memang terlihat tegas. Dari gerakan silek itu, Yeti merancang sebuah tari dan esensi yang bukan asal-asalan, tapi memiliki gerakan yang memperkenalkan sebuah budaya di Minang yakni silek.

Sosok Gusmiati Suid Dimata Murid


Rahmi yang diberi kesempatan sebagai pemateri di kegiatan Semiloka Transformasi Silek dalam Karya Seni, Studi Kasus Penciptaan Tari Karya Gusmiati Suid, mengungkap banyak cerita tentang sosok gurunya. Mengawali sambutannya, tak dapat dihitung tetesan air mata Rahmi ketika menyebut tari Rantak karya sosok perempuan yang ia kaguminya itu.
Rahmi Fahmi, SE, MBA, ketika jadi pemateri di acara Semiloka Transformasi Silek dalam Karya Seni, Studi Kasus Penciptaan Tari Karya Gusmiati Suid, yang dihadiri puluhan seniman. Foto: ReferensiKita.id

Dari cerita singkat Rahmi, tari rantak yang ia pahami, ialah sebuah tari yang diperankan oleh seseorang yang tidak harus memiliki postur tubuh tinggi, tidak mengenal dengan tampang fisik yang harus cantik. Tapi untuk memerankan tari Rantak itu, pada dasarnya perlu mempelajari silek. Karena esensi tari Rantak yang dilahirkan oleh almarhumah ialah sebuah tari yang tidak gemulai dan baku.


"Kalau guru saya itu punya pandangan khusus yang tidak bisa kita pahami, bagaimana kriteria orang yang bisa dijadikan murid untuk berlatih tari Rantak itu, hanya beliau yang bisa memahaminya. Tapi dari yang saya lihat, postur tubuh dan kecantika bukanlah jadi tolak ukur pertama beliau. Ketika itu, saya berkesempatan untuk dilatih tari Rantak," katanya, kepada Blog Referensi Kita

Berbicara tentang kriteria dari yang dibutuhkan dalam belajar tari Rantak, Rahmi melihat ke zaman sekarang. Dimana banyak seniman memilih penari itu atas dasar postur tumbuh yakni harus tinggi dan langsung, serta memiliki parah wajah yang cantik atau tampan untuk laki-lakinya. Soal apakah ia bisa menari, dan apakah orang-orang yang seperti pas menarinya, seakan seperti menjadi persoalan yang sekian. Sementara Gusmiati Suid kebalikan dari hal itu.

Lalu, bagaimana dengan tari Rantak yang kini telah diajarkan disejumlah sanggar tari yang ada di Sumatera Barat? Rahmi menyatakan untuk melihat tari Rantak sesungguhnya, perlu dikenalkan standar sebuah tari Rantak, sehingga tidak lahir tari Rantak yang di inovasi sehingga lari dari esensi sebuah tari Rantak.

"Dulu itu, dalam penampilan tari rantak. Jika latar gelap, bahkan pakaian dari sang penari juga turut gelap, tata riah juga gelap. Kenapa demikian? biar penonton bisa merasakan esensi dari sebuah tari Rantak, yang kental dengan gerakan silek, dan bukan tari yang gemulai," tegas Rahmi yang merupakan mantan Rektor Universitas Dharma Andalas Padang ini, yang kini memililh menjadi dosen.

Sementara kini, banyak orang menyatakan kalau tari Rantak itu tidak seperti dulu lagi, dan bahkan bagi seniman yang memang kenal betul dengan tari Rantak merasa sedih, karena tari Rantak tidak setegas dulu dan banyak inovasi yang bukan membuat makin bagus, tapi malah makin jatuh nilainya.

Ciri Khas Tarik Rantak


Rahmi menjelaskan, di dalam tari Rantak yang didasari dari gerakan silek itu, yaitu tagak - tagak (berdiri tegak), yaitu gerakan yang melambangkan konsep merenung sebelum melakukan tindakan sesuatu. Ukua jo jangko (gerakan seperti mengukur), yaitu gerakan yang bermakna melakukan segala sesuatu harus sesuai dengan kemampuan dan diukur dengan baik. Pandang kutiko (memandang), yaitu gerakan yang memiliki makna kemampuan dalam menafsirkan sebuah peristiwa ataupun pelajaran dengan bijaksana dan tidak berat sebelah.

Selanjutnya, garak - garik (bergerak), yaitu gerakan yang memiliki makna inisiatif dalam melakukan sesuatu yang baik, kewaspadaan, dan penuh kepekaan. Raso Pareso, yaitu gerakan yang melambangkan pikiran yang telah menyatu dengan hati nurani.

"Jadi semua gerakan tersebut bermaksud untuk melestarikan kesenian Pencak Silat dan juga untuk menunjukkan filosofi yang sebenarnya dari semua gerakan Pencak Silat dan juga tari Rantak itu sendiri didalam kesatuan gerakan," ucapnya.

Menurutnya, dulunya tari rantak ini merupakan tari tradisional yang dinamis dan juga menarik untuk ditonton dan ditampilkan pada acara - acara adat dan kebudayaan, termasuk resepsi pernikahan berkebudayaan dan beradat Sumatera Barat.

Karya Dari Gusmiati Suid 


Gusmiati Suid. Foto: borobudurwriters.id

Melihat ke situs id.wikipedia.org Gusmiati Suid meninggal di Jakarta, 28 September 2001 pada umur 59 tahun adalah seorang penata tari (koreografer). Ia dipandang sebagai seorang maestro tari di dunia seni tari kontemporer Indonesia. Almarhum juga telah melahirkan beberapa karya seni tari terkenal, diantaranya tari Kabar Burung, Api Dalam Sekam dan tari Rantak pada tahun 1976. Sepanjang kariernya di dunia tari, Gusmiati telah menghasilkan sekurangnya 30 karya seni tari pementasan.

Penghargaan yang diterima Gusmiati dianggap berhasil menciptakan sesuatu yang baru dan meraih penghargaan di Pekan Tari Rakyat Indonesia pada tahun 1978. Ia juga telah beberapa kali mementaskan karyanya di luar negeri, diantaranya di Lausanne, Swiss, pada tahun 1980, dan di "Asia Festival of Theatre, Dance and Martial Art" di Calcutta, India, pada tahun 1987.

Pada tahun 1991 ia menerima penghargaan "Bessies Award" dari New York Dance and Performance. Sanggar tari Gumarang Sakti yang didirikannya pada tahun 1982 menjadi satu-satunya wakil Asia di dalam acara tari Internationalis Tanz Festival ke-6 di Jerman pada bulan Juni tahun 1994. Festival ini diselenggarakan untuk memperingati 100 tahun lahirnya tari modern. (*)