arrow_upward
settings_brightness
Jembatan Akar di Bayang Utara, Pesisir Selatan. Foto: Pemkab Pesisir Selatan

ReferensiKita.id, - Jembatan Akar yang terletak di Nagari Puluik Puluik Kecamatan Bayang Utara, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, merupakan sebuah bukti bahwa alam adalah sahabat amat penting bagi kehidupan manusia. Karena, di Nagari/Desa itu ada jembatan yang menghubungkan dua desa dari akar pohon kayu yang tumbuh di sebuah pinggir sungai.

Mengawali dari sebuah fenomena alam ini, mungkin bagi Anda yang membaca tulisan pembuka mulai berpikir, bagaimana bisa akar kayu menjadi jembatan penyeberangan antara dua desa? Mari baca tulisan ini dengan detail dan hingga selesai, biar tidak asal paham.

Sejarah Adanya Jembatan Akar 


Data yang diarsipkan oleh Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga, Pesisir Selatan, dari website berita.pesisirselatan.go.id menyebutkan, lebih dari satu abad yang lalu, di Kampung Puluik Puluik yang saat ini sudah dimekarkan menjadi Nagari Puluik Puluik lahirlah seorang anak yang kemudian tumbuh menjadi seorang pemuda kreatif.

Anak itu bernama Sokan, saking kreatifnya, anak yang kreatif itu setelah dewasa akrap dipanggil Pakiah Sokan. Gelar Pakiah itu disandang karena dia memang memiliki kepedulian sosial yang tinggi, serta juga piawai dalam mencari solusi dan persoalan sosial yang terjadi di masyarakat.

Semasa hidupnya, baik ketika masih belia hingga dewasa, otaknya selalu berfikir mencari solusi terhadap berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat. Termasuk juga terhadap minimnya sarana transportasi di kampungnya.

Katika itu yang paling mendesak menurutnya adalah sarana penghubung antara kampung Puluik Puluik dengan kampung Lubuk Silau yang dibatasi oleh sungai Batang Bayang.

Agar sarana penghubung dua kampung itu bisa teratasi, maka perlu dibangun sebuah jembatan. Tapi keterbatasan material baik semen, besi dan lainya, menjadi penghalang solusi pembangunan jembatan tidak bisa dilakukan oleh masyarakat saat itu.

Sebab Kampung Puluik Puluik yang berjarak sekitar 25 kilometer dari dari Pasar Baru Bayang ketika itu, selain sulit dijangkau dari daerah luar, berbagai kebutuhan untuk membangun jembatan juga tidak bisa didapat. 

"Jadi dulunya itu Pakia Sokan ini yang tinggal tidak jauh dari lokasi jembatan akar saat itu, merasa miris setiap kali menyaksikan warga kampung yang juga tentu anak keponakannya sendiri di Lubuak Silau yang selalu menyeberangi sungai untuk pergi ke pasar atau sekedar ke Puluik Puluik," jelasnya.

Kalaupun ada jembatan, paling bagusnya terbuat dari bambu yang lebih pas disebut titian. Tapi setiap kali air sungai meluap atau besar, jembatan yang terbuat dari bambu itu akan terbawa arus air pula. Bahkan penyeberangan seperti itu juga sangat membahayakan keselamatan.

Beranjak dari kondisi dan besarnya resiko dengan menyeberang di atas titian bambu, sehingga terfikirlah oleh Pakia Sokan untuk  membuat jembatan dari akar. Sebelum jembatan akar dibangun, Pakia Sokan  melakukan survei terlebih dahulu terhadap jenis kayu yang memiliki akar kuat dan panjang, dan bisa menyatu satu sama lainnya.

Berbagai jenis kayu yang ada di hutan sekitar kampung itu dipelajarinya. Uji cobapun dilakukan terhadap berbagai jenis kayu tanpa pantang menyerah hingga akhirnya pilihan jatuh pada jenis kayu pohon kubang dan beringin.

Setelah melalui pertimbangan yang matang baik terhadap kekuatan pohon dan kekuatan akar dan lainya. Sehingga tahun 1916 Pakia Sokan mulai menanam dua jenis pohon pilihanya itu, yakni pohon kubang dan beringin.

Dua jenis pohon ini, masing-masing ditanam secara berseberangan. Dimana sebelah Kampung Pului Puluik ditanam pohon Kubang dan diseberang sebelah Dusun Lubuak Silau ditanam pohon beringin.

"Nah dulu itu ketika pohon yang sudah ditanam itu oleh Pakia Sokan tidak dibiarkan tumbuh begitu saja, tapi dirawat hingga tumbuh menjadi dua pohon yang besar. Setelah itu, barulah dipasangnya bambu sebagai titian," ujarnya.

Karena kayu yang ditanam semakin besar dan subur, akar-akarnya pun mulai banyak dan juga memanjang. Mulailah Pakia Sokan menjalin atau menganyam akar ini satu persatu mengikuti titian bambu yang terpasang, sebagai mana diceritakan Riko Eka Putra 40, cucu Pakia Sokan, saat berkunjung beberapa waktu lalu.

"Tanpa mengabaikan tugas utama sebagai pencari nafka bagi anak dan istri saat itu, setiap hari angku (kakek) saya menjalin akar demi akar. Upaya dan kerja keras tanpa pamrih dan pujian itu ternyata membuahkan hasil. Sebab akar yang beliau jalin itu berubah menjadi sebuah jembatan yang saat ini dikenal dengan sebutan jembatan akar," katanya.

Disampaikanya bahwa Jembatan Akar yang sudah berdiri kokoh saat ini, mulai dikenalkan pada tahun sembilan puluhan sebagai salah satu objek wisata di Pesisir Selatan. Walau unik dan tiada duanya di dunia, namun geliat kunjungan tidak semembludak kawasan Wisata Mandeh dan Pantai Carocok Painan.

Jembatan Akar Jadi Tempat Wisata Populer 


Keberadaan itu, ternyata diketahui oleh masyarakat setempat, dan hingga banyak pengunjung yang datang setelah mengetahui adanya jembatan akar dan di bawahnya memiliki air sungai yang sejuk untuk dapat dijadikan rekreasi bagi keluarga. Dulu Wisata Jembatan Akar adalah wisata yang paling populer di Pesisir Selatan, tapi kini mulai pudar karena tertelan hadirnya wisata - wisata baru di daerah sejuta pesona tersebut.

Untuk itu, upaya dan kerja keras yang telah dirintis oleh angku Pakia Sokan ini, perlu lebih dimaksimalkan oleh Pemda Pesisir Selatan melalui instansi terkait. Sebab menghadirkan sebuah keunikan yang alami sebagai mana keberadaan jembatan akar di Puluik Pulik ini, tidaklah mudah dan membutuhkan waktu, kesabaran dan perjuangan yang panjang. Itu telah ditorehkan oleh tangan terampil Pakia Sokan.

Sementara itu, Yusmardi Datuak Mandaro Kayo, salah seorang tokoh masyarakat Bayang Utara yang juga ketika ditanya juga mengakui bahwa keberadaan jembatan akar di kampungnya itu memang berkat usaha dan perjauangan yang dilakukan Pakia Sokan.

"Pakia Sokan ketika hidupnya juga seorang ulama, dia memiliki banyak murid mengaji. Diantara muridnya itu juga ada yang setiap hari menyeberangi sungai untuk sampai ke surau tempat ia mengajar ilmu agama di Lubuk Silau. Karena kasihan dan was-was terhadap keselamatan mereka, sehingga terpanggilah hatinya untuk membuat jembatan dari jalinan akar pohon kubang dan beringin yang sengaja dia tanam," jelasnya.

Ditambahkan Yusmardi, setelah dua jenis pohon yang ditanam sekitar tahun 1916 itu tumbuh besar, Pakia Sokan setidaknya membutuhkan waktu selama 26 tahun untuk membangun jembatan itu hingga bisa ditempuh oleh warga untuk menyeberang.

"Sekarang jembatan akar yang sudah berusia sekitar 103 tahun ini, memang telah menjadi salah satu kawasan wisata di Pesisir Selatan. Kebaradaanya yang unik, menjadi daya tarik untuk didatangi. Namun geliat kunjungan belum begitu banyak," ucapnya.

Akses Menuju Wisata Jembatan Akar 


Wisata Jembatan Akar yang berada di Nagari/Desa Puluik Puluik, bisa dikatakan seakan ditelan kesohorannya setelah hadirnya wisata Mandeh dan bumingnya Pantai Carocok Painan.

Dalam bahasa Minang, jembatan yang letaknya sekitar 88 km sebelah selatan kota Padang ini oleh masyarakat dinamakan titian aka. Jembatan ini memiliki panjang 25 meter dan lebar 1,5 meter dengan ketinggian dari permukaan sungai sekitar 10 meter.

Menurut data dari Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Pesisir Selatan, jembatan tersebut mulai dibentuk pada tahun 1890 dan baru dapat digunakan pada tahun 1916. Dengan kata lain, proses merajut akar menjadi jembatan ini membutuhkan waktu lebih kurang 26 tahun. Saat ini, kondisinya semakin lama semakin kuat karena semakin besarnya akar pohon beringin yang membentuknya.

Dengan adanya fenomena alam yang membuat dua akar pohon beringin jadi saling berkaitan dan membentuk sebuah jembatan, membuat hal jadi tujuan wisata. Di kawasan ini, tidak hanya sekedar melihat Jembatan Akar nya, tapi pengunjung juga dapat menikmati mandi dan merasakan dinginnya air sungai di daerah tersebut. (*) 

Saksi Sejarah Terbentuknya Jembatan dari Akar Pohon

Thursday, August 29, 2019 : 13:44
Jembatan Akar di Bayang Utara, Pesisir Selatan. Foto: Pemkab Pesisir Selatan

ReferensiKita.id, - Jembatan Akar yang terletak di Nagari Puluik Puluik Kecamatan Bayang Utara, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, merupakan sebuah bukti bahwa alam adalah sahabat amat penting bagi kehidupan manusia. Karena, di Nagari/Desa itu ada jembatan yang menghubungkan dua desa dari akar pohon kayu yang tumbuh di sebuah pinggir sungai.

Mengawali dari sebuah fenomena alam ini, mungkin bagi Anda yang membaca tulisan pembuka mulai berpikir, bagaimana bisa akar kayu menjadi jembatan penyeberangan antara dua desa? Mari baca tulisan ini dengan detail dan hingga selesai, biar tidak asal paham.

Sejarah Adanya Jembatan Akar 


Data yang diarsipkan oleh Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga, Pesisir Selatan, dari website berita.pesisirselatan.go.id menyebutkan, lebih dari satu abad yang lalu, di Kampung Puluik Puluik yang saat ini sudah dimekarkan menjadi Nagari Puluik Puluik lahirlah seorang anak yang kemudian tumbuh menjadi seorang pemuda kreatif.

Anak itu bernama Sokan, saking kreatifnya, anak yang kreatif itu setelah dewasa akrap dipanggil Pakiah Sokan. Gelar Pakiah itu disandang karena dia memang memiliki kepedulian sosial yang tinggi, serta juga piawai dalam mencari solusi dan persoalan sosial yang terjadi di masyarakat.

Semasa hidupnya, baik ketika masih belia hingga dewasa, otaknya selalu berfikir mencari solusi terhadap berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat. Termasuk juga terhadap minimnya sarana transportasi di kampungnya.

Katika itu yang paling mendesak menurutnya adalah sarana penghubung antara kampung Puluik Puluik dengan kampung Lubuk Silau yang dibatasi oleh sungai Batang Bayang.

Agar sarana penghubung dua kampung itu bisa teratasi, maka perlu dibangun sebuah jembatan. Tapi keterbatasan material baik semen, besi dan lainya, menjadi penghalang solusi pembangunan jembatan tidak bisa dilakukan oleh masyarakat saat itu.

Sebab Kampung Puluik Puluik yang berjarak sekitar 25 kilometer dari dari Pasar Baru Bayang ketika itu, selain sulit dijangkau dari daerah luar, berbagai kebutuhan untuk membangun jembatan juga tidak bisa didapat. 

"Jadi dulunya itu Pakia Sokan ini yang tinggal tidak jauh dari lokasi jembatan akar saat itu, merasa miris setiap kali menyaksikan warga kampung yang juga tentu anak keponakannya sendiri di Lubuak Silau yang selalu menyeberangi sungai untuk pergi ke pasar atau sekedar ke Puluik Puluik," jelasnya.

Kalaupun ada jembatan, paling bagusnya terbuat dari bambu yang lebih pas disebut titian. Tapi setiap kali air sungai meluap atau besar, jembatan yang terbuat dari bambu itu akan terbawa arus air pula. Bahkan penyeberangan seperti itu juga sangat membahayakan keselamatan.

Beranjak dari kondisi dan besarnya resiko dengan menyeberang di atas titian bambu, sehingga terfikirlah oleh Pakia Sokan untuk  membuat jembatan dari akar. Sebelum jembatan akar dibangun, Pakia Sokan  melakukan survei terlebih dahulu terhadap jenis kayu yang memiliki akar kuat dan panjang, dan bisa menyatu satu sama lainnya.

Berbagai jenis kayu yang ada di hutan sekitar kampung itu dipelajarinya. Uji cobapun dilakukan terhadap berbagai jenis kayu tanpa pantang menyerah hingga akhirnya pilihan jatuh pada jenis kayu pohon kubang dan beringin.

Setelah melalui pertimbangan yang matang baik terhadap kekuatan pohon dan kekuatan akar dan lainya. Sehingga tahun 1916 Pakia Sokan mulai menanam dua jenis pohon pilihanya itu, yakni pohon kubang dan beringin.

Dua jenis pohon ini, masing-masing ditanam secara berseberangan. Dimana sebelah Kampung Pului Puluik ditanam pohon Kubang dan diseberang sebelah Dusun Lubuak Silau ditanam pohon beringin.

"Nah dulu itu ketika pohon yang sudah ditanam itu oleh Pakia Sokan tidak dibiarkan tumbuh begitu saja, tapi dirawat hingga tumbuh menjadi dua pohon yang besar. Setelah itu, barulah dipasangnya bambu sebagai titian," ujarnya.

Karena kayu yang ditanam semakin besar dan subur, akar-akarnya pun mulai banyak dan juga memanjang. Mulailah Pakia Sokan menjalin atau menganyam akar ini satu persatu mengikuti titian bambu yang terpasang, sebagai mana diceritakan Riko Eka Putra 40, cucu Pakia Sokan, saat berkunjung beberapa waktu lalu.

"Tanpa mengabaikan tugas utama sebagai pencari nafka bagi anak dan istri saat itu, setiap hari angku (kakek) saya menjalin akar demi akar. Upaya dan kerja keras tanpa pamrih dan pujian itu ternyata membuahkan hasil. Sebab akar yang beliau jalin itu berubah menjadi sebuah jembatan yang saat ini dikenal dengan sebutan jembatan akar," katanya.

Disampaikanya bahwa Jembatan Akar yang sudah berdiri kokoh saat ini, mulai dikenalkan pada tahun sembilan puluhan sebagai salah satu objek wisata di Pesisir Selatan. Walau unik dan tiada duanya di dunia, namun geliat kunjungan tidak semembludak kawasan Wisata Mandeh dan Pantai Carocok Painan.

Jembatan Akar Jadi Tempat Wisata Populer 


Keberadaan itu, ternyata diketahui oleh masyarakat setempat, dan hingga banyak pengunjung yang datang setelah mengetahui adanya jembatan akar dan di bawahnya memiliki air sungai yang sejuk untuk dapat dijadikan rekreasi bagi keluarga. Dulu Wisata Jembatan Akar adalah wisata yang paling populer di Pesisir Selatan, tapi kini mulai pudar karena tertelan hadirnya wisata - wisata baru di daerah sejuta pesona tersebut.

Untuk itu, upaya dan kerja keras yang telah dirintis oleh angku Pakia Sokan ini, perlu lebih dimaksimalkan oleh Pemda Pesisir Selatan melalui instansi terkait. Sebab menghadirkan sebuah keunikan yang alami sebagai mana keberadaan jembatan akar di Puluik Pulik ini, tidaklah mudah dan membutuhkan waktu, kesabaran dan perjuangan yang panjang. Itu telah ditorehkan oleh tangan terampil Pakia Sokan.

Sementara itu, Yusmardi Datuak Mandaro Kayo, salah seorang tokoh masyarakat Bayang Utara yang juga ketika ditanya juga mengakui bahwa keberadaan jembatan akar di kampungnya itu memang berkat usaha dan perjauangan yang dilakukan Pakia Sokan.

"Pakia Sokan ketika hidupnya juga seorang ulama, dia memiliki banyak murid mengaji. Diantara muridnya itu juga ada yang setiap hari menyeberangi sungai untuk sampai ke surau tempat ia mengajar ilmu agama di Lubuk Silau. Karena kasihan dan was-was terhadap keselamatan mereka, sehingga terpanggilah hatinya untuk membuat jembatan dari jalinan akar pohon kubang dan beringin yang sengaja dia tanam," jelasnya.

Ditambahkan Yusmardi, setelah dua jenis pohon yang ditanam sekitar tahun 1916 itu tumbuh besar, Pakia Sokan setidaknya membutuhkan waktu selama 26 tahun untuk membangun jembatan itu hingga bisa ditempuh oleh warga untuk menyeberang.

"Sekarang jembatan akar yang sudah berusia sekitar 103 tahun ini, memang telah menjadi salah satu kawasan wisata di Pesisir Selatan. Kebaradaanya yang unik, menjadi daya tarik untuk didatangi. Namun geliat kunjungan belum begitu banyak," ucapnya.

Akses Menuju Wisata Jembatan Akar 


Wisata Jembatan Akar yang berada di Nagari/Desa Puluik Puluik, bisa dikatakan seakan ditelan kesohorannya setelah hadirnya wisata Mandeh dan bumingnya Pantai Carocok Painan.

Dalam bahasa Minang, jembatan yang letaknya sekitar 88 km sebelah selatan kota Padang ini oleh masyarakat dinamakan titian aka. Jembatan ini memiliki panjang 25 meter dan lebar 1,5 meter dengan ketinggian dari permukaan sungai sekitar 10 meter.

Menurut data dari Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Pesisir Selatan, jembatan tersebut mulai dibentuk pada tahun 1890 dan baru dapat digunakan pada tahun 1916. Dengan kata lain, proses merajut akar menjadi jembatan ini membutuhkan waktu lebih kurang 26 tahun. Saat ini, kondisinya semakin lama semakin kuat karena semakin besarnya akar pohon beringin yang membentuknya.

Dengan adanya fenomena alam yang membuat dua akar pohon beringin jadi saling berkaitan dan membentuk sebuah jembatan, membuat hal jadi tujuan wisata. Di kawasan ini, tidak hanya sekedar melihat Jembatan Akar nya, tapi pengunjung juga dapat menikmati mandi dan merasakan dinginnya air sungai di daerah tersebut. (*)