arrow_upward
settings_brightness

ReferensiKita.id - Merantau merupakan suatu hal yang menjadi budaya bagi masyarakat di Minangkabau, Sumatera Barat. Bahkan kini, perantau Minang tidak hanya berada di seluruh daerah di Indonesia ini, tapi juga banyak ditemui diberbagai negara.

Merantau yang dilakukan itu, bukan sekedar meninggalkan kampung halaman. Tapi ada usaha yang dikembangkan, yakni membuka usaha rumah makan, dan banyak usaha lainnya.

Kenapa begitu kuat tekad perantau Minang meninggalkan kampung halaman, dan percaya diri bisa sukses membuka usaha di daerah yang dituju. Karena ada hal yang perlu dipahami dalam filsafah orang Minang tentang merantau sesuai website saribundo.biz.

Karatau madang di huluBabuah babungo balunMarantau bujang dahuluDi kampuang baguno balun

Artinya
Keratau madang di hulu
Berbuah berbunga belum
Merantau bujang dahulu
Di kampung berguna belum

Dengan demikian, orang Minang di rantau dapat hidup berdampingan dengan masyarakat lainya, meskipun berbeda suku, etnis, budaya dan agama. Sehingga mereka dapat di terima oleh masyakat setempat. Apalagi dengan karakter orang Minang yang memiliki cara komunikasi yang baik dan menyenangkan, akan sangat mudah bagi perantau menjalin persaudaraan.

Sebagimana pepatah Minang. Dima bumi di pijak, disinan langik di junjuang. Artinya dimana bumi di pijak, di sana langit dijunjung.

Makna dari hal ini, dimanapun perantau hidup dan tinggal, maka segala peraturan baik itu peraturan secara tertulis maupun peraturan adat istiadat setempat, harus dipatuhi dan di junjung tinggi. Pepatah inilah yang selalu melekat pada orang Minang, sehingga mereka dapat di tinggal dimanapun mereka berada.

Jika kamu ingin merantau maka merantau maka belajarlah filosofi orang minang yang sukses di rantau. Dengan selalu memegang teguh kebudayaan dan menghormati segala peraturan yang berlaku di suatu tempat.

Maka tidak jarang di kota-kota besar pasti bertemu dengan orang minang. Entah mereka berdagang, atau berbisnis. Budaya merantau sudah melekat erat pada orang minangkabau.

Pada zaman dahalu yang sering merantau adalah anak laki-laki. Dengan berkembangnya zaman, sekarang ini tak hanya laki-laki saja yang pergi merantau. Kaum perempuan pun boleh menurut filosofi merantau.

Sejak dahulu, setiap pemuda Minang yang sudah cukup umur, maka mereka akan pergi merantau meninggalkan kampung halaman dan merantau ke daerah-daerah yang mereka tuju.

Pergi merantau bukan berarti melupakan kampung halamannya begitu saja. Mereka sangat mencintai tanah kelahirannya, meskipun pergi merantau ke daerah yang baru.

Selain itu pergi merantau bukan berarti lari dari kehidupan yang sesungguhnya. Merantau bagi orang minangkabau sebagian besar mereka berdagang, menuntut ilmu.

Tak jarang dari orang Minangkabau melahirkan orang yang berpengaruh di Indonesia. Contohnya saja adalah Mohammad Hatta, Buya Hamka, Tan Malaka, Muhammad Natsir, Sutan syahrir, dan Haji Agus Salim. Mereka adalah orang-orang yang berpengaruh di Indonesia. Kebudaayaan orang Minangkabau tentunya sangat lekat pada dirinya meskipun mereka berada di rantau orang.

Sekarang, bagaimana dengan adanya masyarakat Sumatera Barat yang merantau ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua. Dari data Biro Rantau Setdaprov Sumatera Barat masyarakat Minang yang merantau ke Jayawijaya sebanyak 1.200 lebih.

Alasan memilih tanah Papua itu, karena secara ekonomi, di Wamena dinilai cukup menjanjikan. Hal ini terlihat dari sisi nilai rupiahnya. Terutama untuk usaha Rumah Makan Padang, di sana harga nasi Padang paling murah bisa mencapai Rp25.000 untuk satu bungkus nasi. Berbeda dengan di daerah Sumatera Barat, paling mahalnya harga nasi bungkus nya Rp20.000, itu pun sudah sekelas restoran.

Begitu juga untuk usaha lainnya, dinilai dapat memperoleh keuntungan yang lebih besar. Hal inilah salah satu alasan banyaknya masyarakat Sumatera Barat merantau ke Wamena.

Selain itu, karakter orang Sumatera Barat yang mudah bergaul, membuat tanah Papua dinilai tepat untuk dijadikan tanah rantau. Untuk itu, persoalan kericuhan yang terjadi bukanlah hal yang diduga, sehingga mengakibatkan 9 orang asal Sumatera Barat meninggal dunia. Harapan bersama, semoga situasi kembali kondusif. Kita satu nusa satu bangsa, mari hidung saling berdampingan.

Mengenal Budaya Merantau Orang Minang Hingga Tiba di Wamena

Friday, September 27, 2019 : 20:49

ReferensiKita.id - Merantau merupakan suatu hal yang menjadi budaya bagi masyarakat di Minangkabau, Sumatera Barat. Bahkan kini, perantau Minang tidak hanya berada di seluruh daerah di Indonesia ini, tapi juga banyak ditemui diberbagai negara.

Merantau yang dilakukan itu, bukan sekedar meninggalkan kampung halaman. Tapi ada usaha yang dikembangkan, yakni membuka usaha rumah makan, dan banyak usaha lainnya.

Kenapa begitu kuat tekad perantau Minang meninggalkan kampung halaman, dan percaya diri bisa sukses membuka usaha di daerah yang dituju. Karena ada hal yang perlu dipahami dalam filsafah orang Minang tentang merantau sesuai website saribundo.biz.

Karatau madang di huluBabuah babungo balunMarantau bujang dahuluDi kampuang baguno balun

Artinya
Keratau madang di hulu
Berbuah berbunga belum
Merantau bujang dahulu
Di kampung berguna belum

Dengan demikian, orang Minang di rantau dapat hidup berdampingan dengan masyarakat lainya, meskipun berbeda suku, etnis, budaya dan agama. Sehingga mereka dapat di terima oleh masyakat setempat. Apalagi dengan karakter orang Minang yang memiliki cara komunikasi yang baik dan menyenangkan, akan sangat mudah bagi perantau menjalin persaudaraan.

Sebagimana pepatah Minang. Dima bumi di pijak, disinan langik di junjuang. Artinya dimana bumi di pijak, di sana langit dijunjung.

Makna dari hal ini, dimanapun perantau hidup dan tinggal, maka segala peraturan baik itu peraturan secara tertulis maupun peraturan adat istiadat setempat, harus dipatuhi dan di junjung tinggi. Pepatah inilah yang selalu melekat pada orang Minang, sehingga mereka dapat di tinggal dimanapun mereka berada.

Jika kamu ingin merantau maka merantau maka belajarlah filosofi orang minang yang sukses di rantau. Dengan selalu memegang teguh kebudayaan dan menghormati segala peraturan yang berlaku di suatu tempat.

Maka tidak jarang di kota-kota besar pasti bertemu dengan orang minang. Entah mereka berdagang, atau berbisnis. Budaya merantau sudah melekat erat pada orang minangkabau.

Pada zaman dahalu yang sering merantau adalah anak laki-laki. Dengan berkembangnya zaman, sekarang ini tak hanya laki-laki saja yang pergi merantau. Kaum perempuan pun boleh menurut filosofi merantau.

Sejak dahulu, setiap pemuda Minang yang sudah cukup umur, maka mereka akan pergi merantau meninggalkan kampung halaman dan merantau ke daerah-daerah yang mereka tuju.

Pergi merantau bukan berarti melupakan kampung halamannya begitu saja. Mereka sangat mencintai tanah kelahirannya, meskipun pergi merantau ke daerah yang baru.

Selain itu pergi merantau bukan berarti lari dari kehidupan yang sesungguhnya. Merantau bagi orang minangkabau sebagian besar mereka berdagang, menuntut ilmu.

Tak jarang dari orang Minangkabau melahirkan orang yang berpengaruh di Indonesia. Contohnya saja adalah Mohammad Hatta, Buya Hamka, Tan Malaka, Muhammad Natsir, Sutan syahrir, dan Haji Agus Salim. Mereka adalah orang-orang yang berpengaruh di Indonesia. Kebudaayaan orang Minangkabau tentunya sangat lekat pada dirinya meskipun mereka berada di rantau orang.

Sekarang, bagaimana dengan adanya masyarakat Sumatera Barat yang merantau ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua. Dari data Biro Rantau Setdaprov Sumatera Barat masyarakat Minang yang merantau ke Jayawijaya sebanyak 1.200 lebih.

Alasan memilih tanah Papua itu, karena secara ekonomi, di Wamena dinilai cukup menjanjikan. Hal ini terlihat dari sisi nilai rupiahnya. Terutama untuk usaha Rumah Makan Padang, di sana harga nasi Padang paling murah bisa mencapai Rp25.000 untuk satu bungkus nasi. Berbeda dengan di daerah Sumatera Barat, paling mahalnya harga nasi bungkus nya Rp20.000, itu pun sudah sekelas restoran.

Begitu juga untuk usaha lainnya, dinilai dapat memperoleh keuntungan yang lebih besar. Hal inilah salah satu alasan banyaknya masyarakat Sumatera Barat merantau ke Wamena.

Selain itu, karakter orang Sumatera Barat yang mudah bergaul, membuat tanah Papua dinilai tepat untuk dijadikan tanah rantau. Untuk itu, persoalan kericuhan yang terjadi bukanlah hal yang diduga, sehingga mengakibatkan 9 orang asal Sumatera Barat meninggal dunia. Harapan bersama, semoga situasi kembali kondusif. Kita satu nusa satu bangsa, mari hidung saling berdampingan.