arrow_upward
settings_brightness
Massa yang tergabung dalam Solidaritas Perjuangan Demokrasi terlibat kericuhan dengan petugas kepolisian saat menggelar aksi solidaritas untuk kelompok Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) di Jalan Sudirman, DI Yogyakarta, Selasa (23/2). Foto: Antara/Andreas Fitri Atmoko

ReferensiKita.id - Pemerintah Provinsi Sumatera Barat semakin merasa geram dengan tindakan penyakit masyarakat yakni lesbian gay biseksual dan transgender (LBGT). Apalagi belum lama ini, masyarakat di Kota Padang menggrebek sebuah rumah, dimana soerang dosen pria dan mahasiswa melakukan tindakan asusila sesama jenis tersebut.

Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit, yang menentang keras adanya LGBT di daerahnya itu, mengatakan, pengaruh LGBT di Sumatera Barat semakin meluas. Dulu sebelumnya dirinya menyatakan mengusir LGBT untuk keluar dari Sumatera Barat, jumlahnya tidaklah sampai seribu orang. Namun dengan adanya pernyataan perang itu, sampai saat ini Nasrul mengklaim jumlah LGBT telah mencapai puluhan ribu orang.

"Saya selalu berkoordinasi dengan berbagai dokter yang menemukan adanya pasien yang terlibat LGBT itu. Nyatanya kini, semakin hari jumlah makin berkembang. Saya jujur marah dengan mental masyarakat terutama untuk para muda mudi ini, kenapa mau melakukan itu," tegasnya, Selasa (03/09/2019).

Menurutnya, hal yang perlu dilakukan saat ini ialah merangkul para pemuda mulai dari nagari/desa, dan dalam hal ini Pemerintah Nagari/Desa memberikan sosialisasi dan pemahaman kepada para pemuda tentang bahaya LGBT tersebut. Apalagi sebelumnya hal ini juga telah dilakukan Pemerintah Nagari/Desa tentang narkoba, yang juga melibatkan pemuda untuk menjadi benteng dari pengaruh narkoba.

Untuk itu, Nasrul meminta kepada seluruh Wali Nagari di Sumatera Barat, melakukan pertemuan dengan pemuda pemudi untuk membahas tentang memutus rantai pengaruh LGBT mulai dari nagari/desa. Hal tersebut dianggap perlu, sehingga apalabi nanti mereka pergi ke kota untuk menuntut ilmu atau merantau, tidak terpengaruh oleh LGBT tersebut.

"Saya rasa peran Wali Nagari amat penting. Di setiap nagari/desa itu kan ada organisasi pemudanya. Melalui mereka, kita jadikan sebagai benteng dari pengaruh negatif. Karena pemuda memang seharusnya jadi unjuk tombak untuk menghalau pengaruh buruk yang datang. Makanya, kepada Wali Nagari di seluruh Sumatera Barat, segera tindaklanjuti ini dan jangan ditunda lagi," katanya.

Dikatakannya lagi, LGBT itu tidak menghasilkan hal yang positif, tapi malah mengsengsarakan diri pribadi. Sebut saja dalam ajaran Islam karena masyarakat di Sumatera Barat memeluk agama Islam, sangat bertentangan yang namanya LGBT tersebut.

"Yang melakukan LGBT jelas berdosa. Parahnya lagi LGBT jadi sumber penyebaran HIV/AIDS. Tidak hanya itu, Kanker Dubur, Kanker Mulut, Meningitis (radang selaput otak) juga bakal diderita bagi yang melakukan tindakan tersebut," ungkapnya. (*)

Pengaruh LGBT Perlu Dibentengi Sejak Dari Desa

Tuesday, September 03, 2019 : 11:03
Massa yang tergabung dalam Solidaritas Perjuangan Demokrasi terlibat kericuhan dengan petugas kepolisian saat menggelar aksi solidaritas untuk kelompok Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) di Jalan Sudirman, DI Yogyakarta, Selasa (23/2). Foto: Antara/Andreas Fitri Atmoko

ReferensiKita.id - Pemerintah Provinsi Sumatera Barat semakin merasa geram dengan tindakan penyakit masyarakat yakni lesbian gay biseksual dan transgender (LBGT). Apalagi belum lama ini, masyarakat di Kota Padang menggrebek sebuah rumah, dimana soerang dosen pria dan mahasiswa melakukan tindakan asusila sesama jenis tersebut.

Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit, yang menentang keras adanya LGBT di daerahnya itu, mengatakan, pengaruh LGBT di Sumatera Barat semakin meluas. Dulu sebelumnya dirinya menyatakan mengusir LGBT untuk keluar dari Sumatera Barat, jumlahnya tidaklah sampai seribu orang. Namun dengan adanya pernyataan perang itu, sampai saat ini Nasrul mengklaim jumlah LGBT telah mencapai puluhan ribu orang.

"Saya selalu berkoordinasi dengan berbagai dokter yang menemukan adanya pasien yang terlibat LGBT itu. Nyatanya kini, semakin hari jumlah makin berkembang. Saya jujur marah dengan mental masyarakat terutama untuk para muda mudi ini, kenapa mau melakukan itu," tegasnya, Selasa (03/09/2019).

Menurutnya, hal yang perlu dilakukan saat ini ialah merangkul para pemuda mulai dari nagari/desa, dan dalam hal ini Pemerintah Nagari/Desa memberikan sosialisasi dan pemahaman kepada para pemuda tentang bahaya LGBT tersebut. Apalagi sebelumnya hal ini juga telah dilakukan Pemerintah Nagari/Desa tentang narkoba, yang juga melibatkan pemuda untuk menjadi benteng dari pengaruh narkoba.

Untuk itu, Nasrul meminta kepada seluruh Wali Nagari di Sumatera Barat, melakukan pertemuan dengan pemuda pemudi untuk membahas tentang memutus rantai pengaruh LGBT mulai dari nagari/desa. Hal tersebut dianggap perlu, sehingga apalabi nanti mereka pergi ke kota untuk menuntut ilmu atau merantau, tidak terpengaruh oleh LGBT tersebut.

"Saya rasa peran Wali Nagari amat penting. Di setiap nagari/desa itu kan ada organisasi pemudanya. Melalui mereka, kita jadikan sebagai benteng dari pengaruh negatif. Karena pemuda memang seharusnya jadi unjuk tombak untuk menghalau pengaruh buruk yang datang. Makanya, kepada Wali Nagari di seluruh Sumatera Barat, segera tindaklanjuti ini dan jangan ditunda lagi," katanya.

Dikatakannya lagi, LGBT itu tidak menghasilkan hal yang positif, tapi malah mengsengsarakan diri pribadi. Sebut saja dalam ajaran Islam karena masyarakat di Sumatera Barat memeluk agama Islam, sangat bertentangan yang namanya LGBT tersebut.

"Yang melakukan LGBT jelas berdosa. Parahnya lagi LGBT jadi sumber penyebaran HIV/AIDS. Tidak hanya itu, Kanker Dubur, Kanker Mulut, Meningitis (radang selaput otak) juga bakal diderita bagi yang melakukan tindakan tersebut," ungkapnya. (*)