arrow_upward
settings_brightness
Catatan Harfiandri Damanhuri, Peneliti Penyu  Universitas Bung Hatta

ReferensiKita.id - Bambu Laut (Isis spp) merupakan salah satu komponen dari pembentukan ekosistem terumbu karang (coral reef ecosystem). Bambu laut merupakan bagian dari kelompok besar dari karang lunak (softcoral). Termasuk juga Gorgonacea (sea fan) atau kipas laut.

Bagi nelayan lokal Sumatera Barat, bambu laut belum punya nilai ekonomis. Begitu juga kipas laut. Nama dagang internasional bambu laut juga disebut dengan Sea fan.

Sedangkan jenis karang lunak lainnya adalah akar bahar (Rhumpella sp). Karang hitam (black coral). Walaupun dari kelompok yang sama, sebenarnya mereka bertiga berbeda. Ketiga jenis karang lunaknya ini lebih banyak untuk hiasan saja (cindera mata) di wilayah barat.

Karang lunak dari jenis akar bahar lebih punya nilai ekonomis di pantai barat. Akar bahar menjadi penciri dari para datuak. Juga sebagai gelang kebanggaan para dukun/tabib atau ahli obat alternatif.

Pada umumnya gelang akar bahar dipakai pada pergelangan tangan. Dengan ornamen ikatan perak atau besi putih.

Atau bagian besar yang bulat dipanggalnya dibentuk. Sehingga bernilai seni. Memiliki harga. Sehingga banyak dicari dan dipesan oleh peminat biota karang lunak dari bawah laut ini.

Saat ini tidak banyak lagi para tokoh adat atau datuak. Kepala desa/dusun yang menggunakan gelang akar bahar dipergelangan tangannya. Karena sulitnya didapat karang lunak akar bahar tersebut. Saat ini populasi akar bahar sudah barang tentu berkurang di alam laut.

Hidup pada samudera bersih dan dangkal. Bentuk pertumbahannya yang unik, indah serta eksotik di dalam perairan.

Sedangkan jenis karang lunak dari jenis Bambu Laut ; softcoral (octocorallia). Dengan nama lainnya ; karang bambu ; patah tulang ; sariawan dan lappa-lappa. Pada umumnya bambu laut banyak didapatkan masyarakat yang menunggu pulau.

Terutama pada pulau lokasi naiknya penyu. Atau pulau yang terdapat menara lampu suar. Atau para nelayan yang datang ke sebuah pulau untuk berlindung dan istirahat.

Baca Juga: Maritim Pantai Barat Sumatra

Sambil rehat nelayan juga kadang kala mengambil kesempatan untuk menyelam bebas (free diving). Sambil menembak ikan, mencari sualo (teripang) atau menangkap udang lobster disela batuan karang.

Upaya menjaga jumlah populasi bambu laut oleh pemerintah dengan mengeluarkan aturan perlindungan terbatas (2014). Nampaknya belum mampan melindunginya.

Maka baru-baru ini dikeluarkan lagi aturan Perlindungan Penuh terhadap Bambu Laut (Isis spp), dengan No.8/Kepmen KP/2020, tanggal 13 Januari 2020. Semoga

#salamkonservasi
#bunghattamuda
#fpik.sp2k.ubh
#kkpri
#akarbambukipas

Catatan Harfiandri Damanhuri, Peneliti Penyu  Universitas Bung Hatta

Bambu Isis Laut Pasaman Barat

Friday, February 28, 2020 : 10:45
Catatan Harfiandri Damanhuri, Peneliti Penyu  Universitas Bung Hatta

ReferensiKita.id - Bambu Laut (Isis spp) merupakan salah satu komponen dari pembentukan ekosistem terumbu karang (coral reef ecosystem). Bambu laut merupakan bagian dari kelompok besar dari karang lunak (softcoral). Termasuk juga Gorgonacea (sea fan) atau kipas laut.

Bagi nelayan lokal Sumatera Barat, bambu laut belum punya nilai ekonomis. Begitu juga kipas laut. Nama dagang internasional bambu laut juga disebut dengan Sea fan.

Sedangkan jenis karang lunak lainnya adalah akar bahar (Rhumpella sp). Karang hitam (black coral). Walaupun dari kelompok yang sama, sebenarnya mereka bertiga berbeda. Ketiga jenis karang lunaknya ini lebih banyak untuk hiasan saja (cindera mata) di wilayah barat.

Karang lunak dari jenis akar bahar lebih punya nilai ekonomis di pantai barat. Akar bahar menjadi penciri dari para datuak. Juga sebagai gelang kebanggaan para dukun/tabib atau ahli obat alternatif.

Pada umumnya gelang akar bahar dipakai pada pergelangan tangan. Dengan ornamen ikatan perak atau besi putih.

Atau bagian besar yang bulat dipanggalnya dibentuk. Sehingga bernilai seni. Memiliki harga. Sehingga banyak dicari dan dipesan oleh peminat biota karang lunak dari bawah laut ini.

Saat ini tidak banyak lagi para tokoh adat atau datuak. Kepala desa/dusun yang menggunakan gelang akar bahar dipergelangan tangannya. Karena sulitnya didapat karang lunak akar bahar tersebut. Saat ini populasi akar bahar sudah barang tentu berkurang di alam laut.

Hidup pada samudera bersih dan dangkal. Bentuk pertumbahannya yang unik, indah serta eksotik di dalam perairan.

Sedangkan jenis karang lunak dari jenis Bambu Laut ; softcoral (octocorallia). Dengan nama lainnya ; karang bambu ; patah tulang ; sariawan dan lappa-lappa. Pada umumnya bambu laut banyak didapatkan masyarakat yang menunggu pulau.

Terutama pada pulau lokasi naiknya penyu. Atau pulau yang terdapat menara lampu suar. Atau para nelayan yang datang ke sebuah pulau untuk berlindung dan istirahat.

Baca Juga: Maritim Pantai Barat Sumatra

Sambil rehat nelayan juga kadang kala mengambil kesempatan untuk menyelam bebas (free diving). Sambil menembak ikan, mencari sualo (teripang) atau menangkap udang lobster disela batuan karang.

Upaya menjaga jumlah populasi bambu laut oleh pemerintah dengan mengeluarkan aturan perlindungan terbatas (2014). Nampaknya belum mampan melindunginya.

Maka baru-baru ini dikeluarkan lagi aturan Perlindungan Penuh terhadap Bambu Laut (Isis spp), dengan No.8/Kepmen KP/2020, tanggal 13 Januari 2020. Semoga

#salamkonservasi
#bunghattamuda
#fpik.sp2k.ubh
#kkpri
#akarbambukipas

Catatan Harfiandri Damanhuri, Peneliti Penyu  Universitas Bung Hatta